Nilai Tukar Petani Naik 0,09%

Ilham wibowo    •    Senin, 03 Dec 2018 15:43 WIB
petanibps
Nilai Tukar Petani Naik 0,09%
Ilustrasi. (FOTO: MI/Arya)

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan perkembangan nilai tukar petani (NTP) pada November 2018 sebesar 103,12. Jumlah tersebut naik sebesar 0,09 persen.

Kepala BPS Suhariyanto memaparkan NTP merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani (lt) terhadap indeks harga yang dibayar petani (lb). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

"NTP nasional November 2018 sebesar 103,12 atau naik 0,09 persen dibanding NTP bulan sebelumnya," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di kantor BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Senin, 3 Desember 2018.

Kenaikan NTP tersebut terjadi karena indeks Harga yang Diterima Petani (lt) naik sebesar 0,26 persen. Kondisi itu lebih besar dibandingkan dengan kenaikan indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) sebesar 0,17 persen.

Pada November 2018, NTP Provinsi Sulawesi Barat mengalami kenaikan tertinggi (1,74 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Riau mengalami penurunan terbesar (1,92 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.

"Pada November 2018 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,12 persen, disebabkan oleh kenaikan indeks pada enam kelompok penyusun Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT)," paparnya.

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional November 2018 tercatat sebesar 111,92. Jumlah itu naik 0,01 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Pria yang akrab disapa Kecuk ini menjelaskan NTUP merupakan perbandingan antara indeks Harga yang Diterima oleh Petani (lt) dengan Indeks Harga yang dibayar oleh Petani (lb), di mana komponen lb hanya meliputi Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Secara konseptual, NTUP mengukur seberapa cepat indeks harga yang diterima oleh petani dibandingkan dengan indeks harga biaya produksi dan penambahan barang modal.

"Kenaikan NTUP disebabkan oleh naiknya NTUP subsektor tanaman pangan, sementara NTUP di subsektor lainnnya mengalami penurunan," tandasnya.


(AHL)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

16 hours Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA