Rupiah Anjlok, Industri Perbankan Indonesia Tetap Solid

Desi Angriani    •    Jumat, 05 Oct 2018 20:11 WIB
perbankanrupiah melemah
Rupiah Anjlok, Industri Perbankan Indonesia Tetap Solid
Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: Nilai tukar rupiah yang terus bertengger di level Rp15.000 per USD dinilai tidak berpengaruh signifikan terhadap industri perbankan Indonesia. Hal itu dilihat dari berbagai indikator berupa likuiditas perbankan hingga angka kredit macet atau non performing loan (NPL).

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan industri perbankan saat ini berada di level kapaital paling tinggi dalam sejarah, yakni sebesar 22 persen. Angka itu disebut jauh lebih solid dibandingkan krisis 1998 dan 2008.

"Jadi di level manajemen dan pengelolaan kredit terasa sekali maupun pengelolan modal dan likuiditas. Kita lihat indikatornya, saat ini perbankan berada di level kapital paling tinggi dalam sejarah," kata Tiko sapaamnya, ditemui di Metro TV, Kedoya, Jakarta, Jumat, 5 Oktober 2018.

Selain itu, rata-rata pertumbuhan kredit nasional naik menjadi 11 persen. Bahkan, angka kredit macet turun ke level 2,7 persen. Indikator tersebut membuktikan perbankan dapat beradaptasi dengan keseimbangan baru dari nilai tukar rupiah.

"Jadi bank-bank besar ekspansinya tetap tumbuh baik, di triwulan 3 terdapat akselerasi jadi kita  berharap meski terjadi volatilitas currency, pertumbuhan kredit meningkat, NPL terkendali. Kita harapkan nanti terjadi keseimbangan baru, ekonomi kita dapat berjalan maksimal," tuturnya.

Tiko pun meyakini depresiasi mata uang Garuda tidak berdampak signifikan terhadap masyarakat umum selama inflasi dan harga bahan pokok terkendali. Namun, pemerintah tetap perlu melakukan subsitusi bahan baku impor agar masyarakat terbiasa memanfaatkan bahan baku lokal.

"Jadi memang ter-impact ke capital market, untuk masyarakat umum saya kira tidak terlalu berdampak signifikan atau meluas," pungkas dia.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali mencatat rekor terendah pada perdagangan hari ini. Rupiah merosot ke level yang tak pernah tersentuh sejak krisis finansial 1998 yaitu Rp15.178 per USD.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menjelaskan depresiasi rupiah dipicu tiga hal yakni ketegangan dagang AS-Tiongkok yang memburuk, kenaikan harga minyak, dan dolar AS yang secara umum menguat.


(AHL)


Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

2 days Ago

Kepailitan Sariwangi AEA dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (…

BERITA LAINNYA