BPS Catat Harga Gabah di Bali Naik 3,06%

   •    Senin, 08 Jan 2018 16:02 WIB
harga gabahbpsekonomi daerah
BPS Catat Harga Gabah di Bali Naik 3,06%
Gedung BPS (FOTO ANTARA/Andika Wahyu)

Denpasar: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani di Bali pada Desember 2017 mencapai sebesar Rp4.548,63 per kilogram. Pencapaian itu mengalami kenaikan Rp135 atau 3,06 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya tercatat Rp4.413,73 per kilogram.

"Demikian pula harga gabah di tingkat penggilingan sebesar Rp4.623,83 per kilogram, naik Rp144,23 atau 3,22 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat Rp4.479,60 per kg," kata Kepala BPS Provinsi Bali Adi Nugroho, seperti dikutip dari Antara, di Denpasar, Senin, 8 Januari 2018.

Ia mengatakan, kenaikan harga gabah di tingkat petani dan penggilingan tersebut menyebabkan harganya jauh lebih tinggi dari Harga Patokan Pemerintah (HPP) yang berlaku untuk tingkat petani sebesar Rp3.700 per kg dan tingkat penggilingan Rp3.750 per kg.

Harga gabah di tingkat petani dan penggilingan tersebut merupakan hasil pemantauan harga gabah yang dilakukan di tujuh kabupaten di Bali meliputi Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung, Karangasem dan Buleleng.

Adi Nugroho menambahkan, subsektor tanaman pangan yang meliputi padi dan palawija merupakan salah satu dari lima subsektor yang menentukan pembentukan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mampu mengetahui tingkat kemampuan dan daya beli petani di daerah pedesaan.

"Selain itu juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang sangat diperlukan petani dalam memenuhi konsumsi rumah tangga," ujarnya.

NTP subsektor tanaman pangan merupakan satu-satu yang mengalami kenaikan yakni sebesar 0,40 persen dari 97,85 persen pada November 2017 menjadi 98,24 persen pada Desember 2017. Meskipun satu-satunya yang mengalami kenaikan, hingga saat ini indeks nilai tukar petani tanaman pangan masih berada di bawah 100 persen.

"Yang berarti nilai tukar atas hasil produksi tanaman pangan yang dihasilkan lebih rendah dari biaya produksi dan pengeluaran konsumsi rumah tangga petani," pungkasnya.

 


(ABD)