Fi Asia 2016, Kesempatan Pelaku Industri Makanan Ciptakan Inovasi Bahan Baru

Pelangi Karismakristi    •    Selasa, 20 Sep 2016 13:06 WIB
food ingredients
Fi Asia 2016, Kesempatan Pelaku Industri Makanan Ciptakan Inovasi Bahan Baru
Fi Asia 2016 merupakan acara khusus food ingredients (bahan-bahan makanan dan minuman) yang diikuti 716 peserta dari 47 negara di Asia, termasuk Indonesia (Foto:Dok.Fi Asia)

Metrotvnews.com, Jakarta: Saat yang dinanti oleh para pecinta kuliner dan pebisnis industri makanan akan segera tiba. Food Ingredients (Fi) Asia 2016, akan digelar pada 21 hingga 23 September, di Jakarta International Expo (JIExpo).

Fi Asia 2016 merupakan acara yang dihelat khusus untuk food ingredients (bahan-bahan makanan dan minuman) yang diikuti 716 peserta dari 47 negara di Asia, termasuk Indonesia. Ajang ini menjadi kesempatan bagi negara-negara tersebut untuk menampilkan perkembangan bahan makanan dan minuman, serta inovasinya kepada masyarakat.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhilukman mengatakan, Fi Asia 2016 adalah event yang penting bagi Indonesia. Sebab, ajang tersebut diikuti oleh banyak negara Asia yang menampilkan bahan baru untuk produk makanan dan minuman.

Kekayaan dan keragaman bahan food & beverage (F&B) dari negara lain itu diharapkan memberi inspirasi bagi para pelaku industri makanan di Tanah Air, sehingga mereka termotivasi mengembangkan produk dan menciptakan sesuatu yang baru.

"Kami (industri makanan) sangat membutuhkan karena industri makanan dan minuman punya daya saing kalau ada inovasi. Untuk berinovasi, pasti membutuhkan bahan tambahan pangan atau food ingredients. Ini sangat penting sekali, ingredients (bahan) yang baik inilah kunci dari keberhasilan industri makanan," ujar Adhilukman, dalam Program Metro Plus Siang Metro TV, Senin (19/9/2016).


Ketua GAPMMI Adhilukman dan Business Director UBM Malaysia Rungpech Chitanuwat  pada acara Metro Plus, MetroTV (Foto:Metrotvnews.com/Pelangi Karismakristi)

Adhi mengakui, bahan F&B di Indonesia masih sangat bergantung dengan produk luar negeri. Sebanyak 60 hingga 70 persen merupakan impor bahan pangan tambahan. Hal ini sangat disayangakan. Padahal, menurut Adhi, nusantara memiliki potensi sumber daya alam potensial.

Food ingredients berpeluang dikembangkan di Indonesia. Namun, Adhi tak menampik, untuk bisa merealisasikannya dibutuhkan usaha ekstra dari hulu ke hilir.

"Dengan adanya pameran di sini, kita (pelaku industri makanan di Indonesia) bisa menghemat waktu dan biaya. Terutama bagi usaha kecil menengah yang kesulitan melihat pameran di luar negeri. Mereka bisa datang ke sini mencari produk-produk. Apa yang bisa mereka manfaatkan untuk iniovasi selanjutnya," papar dia.

Pameran akbar bahan F&B ini bukan yang pertama kali digelar. Sebelumnya, Fi Asia pernah diadakan di Malaysia, Singapura, dan Thailand. Adhi menambahkan, dari tahun ke tahun baik peserta pameran, pengunjung, maupun inovasi ingredients yang ditampilkan semakin bertambah.





Melihat peluang yang sangat besar ini, Adhi ingin pemerintah mendukung industri pangan. Sebab, terkadang kecepatan inovasi tak imbang dengan regulasi. Di Indonesia terdapat Permenkes, yang harus mengajukan perizinan makanan sebelum diedarkan. Jika Badan POM memberikan izin, maka makanan tersebut baru boleh dipasarkan.

Di sinilah letak kekuatan pemerintah dalam mendukung industri makanan dan minuman. Pemerintah mesti mempercepat proses perizinan. Sebab kalau tidak, Indonesia akan kalah saing dengan negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Di sana tidak ada pendaftaran pangan, hanya memberikan notifikasi saja kepada pemerintah.

"Tiap industri di sana (Malaysia dan Singapura) sudah punya patokan dan tidak perlu mendaftar ke pemerintah, begitu mereka mengeluarkan produk. Kita harus mengacu ke sana, meskipun memang Indonesia masih banyak kesulitan. Inilah dasar daya saing kita, kecepatan inovasi, kecepatan penggunaan produk-produk baru menjadi penting," ujar Adhi.

Mengingat pentingnya Fi Asia 2016, Adhi mengimbau para pelaku industri pangan memanfaatkan momen tersebut untuk mengintip inovasi baru makanan dan minuman dari berbagai belahan dunia.





Adhi menekankan bahwa ingredients merupakan kunci keberhasilan daya saing produk makanan dan minuman.

"Jangan ketinggalan dengan pasar global. Dan satu lagi yang paling penting adalah global license. Semua potensi yang ada di seluruh dunia buat nilai tambah di sini, dan ekspor ataupun pemenuhan dalam negeri," tutur pria yang mengenakan batik coklat ini.

Sementara itu, Business Director UBM Malaysia Rungpech Chitanuwat mengatakan bahwa Fi Asia 2016 didedikasikan khusus untuk food ingredients (bahan-bahan makanan dan minuman). Fi Asia 2016, ajang yang sangat menarik bagi industri makanan. Sebab, di sana akan ada banyak sekali pameran makanan dan minuman yang bervariasi dan menginspirasi.

"Selain itu, ingredients adalah kunci utama yang bisa membuat produk makanan akan bersaing di pasaran dan tentu saja berbeda untuk dijual kepada konsumen," tutur perempuan yang akrab disapa Rose ini.


Seminar digelar pada Fi Asia 2016 (Foto:Dok.Fi Asia)

Fi Asia 2016 juga tak hanya sekadar pameran, di sana ada kegiatan seperti seminar dan international conference yang pembicaranya berasal dari negara-negara peserta.

"Nanti akan diperlihatkan dan training memproduksi produk yang efisien. Kita tidak boleh hanya menggunakan sumber daya alam saja, namun juga memerhatikan kualitas produk," ujarnya.

Menurut Rose,Indonesia memiliki banyak sumber daya alam, namun disayangkan masih banyak bahan makanan dan minuman yang justru mengimpor dari negara lain.

"Saya berharap, Fi Asia 2016 bisa memberikan 'sesuatu' untuk Indonesia juga, agar bisa menciptakan ingredients baru," kata Rose.


(ROS)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

1 month Ago

Republik Sentilan Sentilun malam ini bertema "Pascareshuffle Mau Apa?" menghadirkan A…

BERITA LAINNYA