Gempa Susulan di Lombok, BTN Tetap Beroperasi

Annisa ayu artanti    •    Kamis, 09 Aug 2018 20:03 WIB
Gempa Lombok
Gempa Susulan di Lombok, BTN Tetap Beroperasi
Ilustrasi gempa bumi. (Metrotvnews.com).

Jakarta: PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN menyatakan operasional bisnis perbankan di kantor cabang terdampak gempa Nusa Tenggara Barat (NTB) tetap berjalan normal.

Pjs Corporate Secretary BTN Eko Waluyo mengatakan, sebanyak tujuh outlet BTN baik Kantor Cabang, Kantor Cabang Syariah maupun Kantor Kas di NTB memang mengalami kerusakan namun bukan kerusakan material. Sehingga operasional BTN tidak terganggu.

Tercatat hanya kantor cabang yang berlokasi di Mataram mengalami kerusakan yang cukup berat, tetapi secara operasional tidak mengganggu.

“Saat gempa mengguncang pada 5 Agustus lalu, hanya Kantor Cabang yang berlokasi di Mataram saja yang sedikit terkendala, namun di lokasi lainnya seperti di Praya, Ampenan, Sumbawa tidak mengalami kerusakan sama sekali, sehingga dapat memberikan pelayanan secara penuh,” kata Eko dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 9 Agustus 2018.

Eko menuturkan, pelayanan perbankan BTN di wilayah NTB dipastikan sudah berjalan seperti biasa. Begitu juga dengan Mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang berada di sekitar 17 titik yang tersebar di daerah Mataram, Praya, Mandalika, Cakrane dan Lombok Barat tetap online dan bisa digunakan untuk bertransaksi normal.

Selain memastikan infrastruktur perbankan masih aman dan terkendali, BTN juga telah siaga untuk menyiapkan kantor darurat, jika sewaktu-waktu hal yang tidak diinginkan terjadi. Kantor Cabang Pembantu yang berada di Jalan Airlangga juga telah disiapkan untuk melayani nasabah.

“Kami tetap siaga melayani nasabah, likuiditas kami cukup begitu juga dengan Sumber Daya Manusia dalam keadaan waspada gempa seperti saat ini,” ujar Eko.

Sementara itu, terkait dengan kondisi debitur yang terdampak gempa NTB menurut Eko Waluyo masih dalam pendataan perseroan. Berdasakan catatan BTN, setidaknya ada sekitar 16 ribu debitur di NTB dengan total outstanding sekitar Rp2 triliun.

“Kami masih mengkalkulasi debitur yang mengalami musibah. Dalam rangka memitigasi risiko kredit bermasalah dan membantu debitur yang terkena dampak kerusakan parah akibat gempa, BTN menyiapkan opsi restrukturisasi untuk meringankan beban debitur. Pemilihan bentuk restrukturisasi dibuat tergantung besarnya kerusakan yang dialami debitur," pungkas Eko.


(SAW)