OJK Bali Sokong Realisasi Kredit Produktif

   •    Sabtu, 02 Sep 2017 13:55 WIB
ojk
OJK Bali Sokong Realisasi Kredit Produktif
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Fanny Octavianus)

Metrotvnews.com, Denpasar: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara mendorong peningkatan kredit untuk sektor produktif salah satunya pembiayaan modal kerja yang realisasinya mencapai Rp32,2 triliun selama semester pertama 2017.

Kepala OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara Zulmi mengatakan semakin besar realisasi untuk peningkatan usaha atau sektor produktif maka diharapkan dapat menekan angka kredit bermasalah.

Selama semester pertama atau periode Januari hingga Juni 2017 realisasi kredit modal kerja perbankan di Bali mencapai Rp32,2 triliun atau naik dibandingkan posisi Desember 2016 yang mencapai Rp31,3 triliun.

"Kredit modal kerja bank umum di Bali mendominasi jumlah pembiayaan yang mencapai Rp27,1 triliun, bank umum syariah Rp605 miliar dan bank perkreditan rakyat (BPR) mencapai Rp4,5 triliun," kata dia, seperti dikutip Antara, di Denpasar, Sabtu 2 September 2017.

Selain modal kerja, kredit untuk investasi juga melonjak tipis dari Rp17,3 triliun pada Desember 2016 menjadi Rp17,5 triliun. Realisasi kredit untuk konsumsi mencatatkan peningkatan meskipun pembiayaan tersebut bukan termasuk produktif.

Pembiayaan untuk konsumsi yang disalurkan perbankan umum konvensional, bank umum syariah dan BPR di Bali selama semester pertama tahun ini mencapai Rp30,6 triliun, melonjak dari posisi Desember 2016 sebesar Rp29,2 triliun.

OJK mencatat total kredit yang disalurkan perbankan di Bali selama semester pertama 2017 mencapai Rp80,3 triliun, melonjak dari Desember 2016 mencapai Rp77,9 triliun. Meski meningkat, Zulmi mengingatkan lembaga keuangan tersebut untuk menekan kredit bermasalah mengingat ada kenaikan pada semester pertama tahun ini.

Total kredit bermasalah (NPL) perbankan di Bali mencapai 3,45 persen, melonjak dibandingkan Desember 2016 yang mencapai 2,42 persen. NPL di BPR tercatat melonjak paling tinggi di antara bank umum konvensional dan bank umum syariah pada Juni 2017 mencapai 7,27 persen, lebih tinggi dibandingkan Desember 2016 yang mencapai 4,91 persen.

"Untuk itu BPR diminta melakukan analisa cermat sebelum menyalurkan kredit kepada calon debitur dan mengarahkan realisasi untuk sektor produktif," pungkasnya.


(AHL)