2025, Nilai Ekonomi Digital Indonesia Diproyeksi Tembus Rp2.000 Triliun

Desi Angriani    •    Rabu, 09 Aug 2017 11:24 WIB
ekonomi digital
2025, Nilai Ekonomi Digital Indonesia Diproyeksi Tembus Rp2.000 Triliun
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo (tengah). (FOTO: MTVN/Desi Angriani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai USD150 miliar atau sekitar Rp2.040 triliun pada 2025. Jumlah ini disebut berkontribusi 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, hal tersebut dapat dicapai bila upaya digitalisasi di Tanah Air didukung penetrasi kepemilikan gadget dan internet yang merata, serta kesadaran pentingnya pemanfaatan teknologi terkini.

"Apabila hambatan-hambatan dalam pemanfaatan teknologi digital tersebut dapat diatasi, maka diperkirakan bahwa digitalisasi ekonomi mampu memberikan nilai tambah sebesar USD150 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2025," ucap Agus dalam seminar nasional big data di Function Room Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu 9 Agustus 2017.

Digitalisasi ekonomi, lanjut Agus, tak cuma mendorong pertumbuhan ekonomi tapi juga meningkatkan penyerapan tenaga kerja yang mencapai hampir 4 juta orang.

Baca: BI Siapkan Big Data untuk Transaksi E-Commerce

"Kami meyakini bahwa revolusi digital yang tengah berlangsung ini, apabila dapat dimanfaatkan dengan baik, akan mampu membawa Indonesia pada lintasan pertumbuhan ekonomi sekitar tujuh persen per tahun," tuturnya.

Namun, potensi besar Indonesia dalam memanfaatkan era digital ini sayangnya belum optimal. Hal ini mengingat penetrasi internet di Indonesia tergolong rendah, yaitu sekitar 51 persen pada 2016. Angka ini masih relatif jauh dibawah negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

"Sebagai perbandingan, angka penetrasi internet di negara seperti Inggris dan Jepang sudah mencapai di atas 90 persen," imbuh mantan menkeu ini.

Agus menambahkan, hambatan lain ialah pengeluaran investasi di bidang teknologi informasi (TI) yang juga tertinggal dibanding negara lain. Investasi TI di sektor manufaktur dan pertambangan relatif masih rendah tapi  investasi yang cukup tinggi tercatat di sektor tersier seperti e-commerce dan fintech.

"e-commerce dan fintech pada 2016 diperkirakan mencapai sebesar USD1,7 miliar," tandasnya.


(AHL)