Bisnis Perumahan Diyakini Tetap Positif di 2018

Eko Nordiansyah    •    Senin, 25 Dec 2017 15:22 WIB
perumahanbtnprogram sejuta rumah
Bisnis Perumahan Diyakini Tetap Positif di 2018
Ilustrasi (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Bogor: PT Bank Tabungan Negara (Persero) (BBTN) Tbk atau BTN meyakini bisnis properti masih akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di tengah pelemahan di sejumlah sektor, nyatanya kontribusi sektor perumahan masih tumbuh positif dibandingkan dengan sektor lainnya.

Kepala Ekonom BTN Winang Budoyo mengatakan sektor perumahan di Indonesia masih memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan. Berbagai kebijakan baik dari pemerintah maupun regulator diharapkan mampu mendongkrak kinerja sektor perumahan di Tanah Air pada tahun-tahun mendatang.

"Adanya dukungan pemerintah, bonus demografi, dan kebijakan relaksasi Loan to Value Bank Indonesia (LTV BI) terus mendorong pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) serta menjaga kualitas kredit," kata Winang, di Bogor, Jawa Barat, Senin, 25 Desember 2017.

Dirinya menambahkan, menjelang tahun politik pada 2018 dan 2019 mendatang, sektor properti dinilai tidak akan mengalami kendala. Apalagi pemerintahan Joko Widodo sangat fokus terhadap pembangunan infrastruktur di berbagai daerah sehingga bisa menopang pertumbuhan bisnis perumahan pada tahun politik.

"Saya rasa ada baiknya kita lihat bagaimana Presiden Jokowi menunjukkan prestasinya. Dari 2015-2018 yang bisa ditunjukkan adalah proyek infrastruktur serta Nawa Cita kelima, yakni perumahan. Program yang lain on progress mungkin belum dijalankan tapi Program Sejuta Rumah saya rasa akan ditekankan di 2018," jelas dia.

Dengan potensi besar tersebut, didukung melesatnya kinerja BTN dalam Program Satu Juta Rumah, selama tiga tahun terakhir telah membuat harga saham BBTN melesat sebesar 191 persen. Kenaikan tersebut jauh meninggalkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tumbuh di level 19 persen untuk periode yang sama.

"Harga saham BBTN pada awal 2017 tercatat berada di posisi Rp1.740 dan terus melesat mencapai titik tertinggi di Rp3.350 pada 7 Desember 2017. Beberapa analis, menyebut target price bergerak di antara 3.300-4.000 dalam dua belas bulan ke depan. Potensi kenaikan harga BBTN masih terbuka lebar, apalagi melihat kondisi historis yang ada," pungkasnya.


(ABD)


BUMN Siap Bersinergi Bangun Kemandirian Pesantren

BUMN Siap Bersinergi Bangun Kemandirian Pesantren

1 day Ago

Menteri BUMN Rini M Soemarno menyatakan perusahaan milik negara di Indonesia siap bersinergi me…

BERITA LAINNYA