OJK Nilai Kredit Bermasalah Disebabkan Buruknya Bisnis Pertambangan

Eko Nordiansyah    •    Kamis, 13 Oct 2016 16:06 WIB
kredit
OJK Nilai Kredit Bermasalah Disebabkan Buruknya Bisnis Pertambangan
Pertambangan. ANT/Yusran Uccang.

Metrotvnews.com, Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) di industri perbankan belum mengalami perbaikan. Sektor bisnis pertambangan yang masih belum pulih menjadi salah satu penyebab tingginya NPL.

"Karena ada beberapa sektor yang pemburukannya berlanjut. Tambang dan sektor terkait tambang (masih melemah)," kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (13/10/2016).

OJK mencatat NPL secara gross di perbankan mengalami kenaikan dari 3,18 persen menjadi 3,2 persen. Sementara secara nett, rasio NPL tercatat 1,4 persen dipengaruhi rasio kecukupan modal bank (CAR) yang mencapai 23 persen.

"Tapi yang penting bank sudah membentuk percadangan yang memadai karena sebtulnya NPL net 1,4 persen dan tidak berubah tiga hingga empat persen. Jadi lihat itu saja, karena NPL ini sudah cover cadangan yang mencukupi," jelas dia.

Dirinya menambahkan, perbaikan NPL bisa dicapai dengan menggenjot pertumbuhan kredit. Dengan pertumbuhan yang lebih tinggi maka pelebaran rasio kredit bermasalah akan menjadi lebih sempit.

"Saya kira perlu dilihat kan (NPL) ini ditentukan pertumbuhan kredit. NPL kan rasio jumlah NPL dengan kreditnya. Kalau kreditnya naik kan itu pembaginya tidak naikan, tidak akan meningkatkan NPL-nya," pungkasnya.


(SAW)