Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2017 Diprediksi Melampaui 5,3 Persen

Gervin Nathaniel Purba    •    Senin, 19 Dec 2016 00:00 WIB
berita bca
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2017 Diprediksi Melampaui 5,3 Persen
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi mencapai 5,3 persen pada 2017 (Foto:Antara/Sigid Kurniawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengadakan diskusi forum Kafe BCA serial keempat dengan tema "Outlook Ekonomi 2017" yang digelar pada Rabu, 14 Desember 2016, di Menara BCA, Jakarta Pusat.

Forum ini dibuka oleh Corporate Secretary BCA Jan Hendra. Hadir sebagai pembicara dalam forum BCA kali ini Direktur Grup Risiko Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Ariefianto dan Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira.

Dalam kesempatan itu, Dody Ariefianto memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai 5,3 persen pada 2017, dengan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika (USD) di posisi Rp13.300 per USD. Menurutnya,  pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 akan banyak ditopang oleh sektor konsumsi.

"Konsumsi rumah tangga, itu tidak ada matinya dan sektor konsumsi ini di atas lima persen. Sektor konsumsi ini berdasarkan atas kebutuhan orang akan makanan, snack, penyedia pangan, retailer, dan termasuk juga kendaraan," ujar Dody.

Selain itu, pertumbuhan properti juga dinilai menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017. Pertumbuhan properti pada 2017 dinilai akan lebih baik dibandingkan dengan tahun ini mengingat dana repatriasi dari program pengampunan pajak (Tax Amnesty) akan terus mengalir masuk.

Di sisi lain, kiprah industri perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi 2017, dilihat dari dua sisi. Pertama, dari risiko likuiditasnya. Kedua, dari risiko pengelolaan kredit. Menurut Dody, jika kedua hal itu tergoncang, maka akan membuat kinerja suatu bank menurun drastis.

"Kalau kredit macet (Non Performing Loan/NPL) masih bisa stabil," katanya.

Di sisi lain, Dody juga menegaskan situasi panasnya politik global dan politik dalam negeri bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun depan. Panasnya politik global yang dimaksud salah satunya adalah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) tanpa diduga.

Terpilihnya Trump sebagai Presiden AS menggantikan Barrack Obama, lanjut Dody, telah memberikan sentimen negatif bagi negera berkembang seperti Indonesia. Pada saat pemenangan Trump, mata uang Rupiah sempat melemah dan bursa saham Asia sempat anjlok.

"Jadi ini tidak dieskpektasi sama sekali Trump menang dan akan bawa cerita besar sesaat dia menang," jelasnya.

Namun demikian, Dody memaparkan bahwa ekspor-impor Indonesia hanya 10 persen ke AS. Dengan demikian, kebijakan proteksionis AS tidak akan berdampak signifikan pada perekonomian dalam negeri seperti yang ditakutkan selama ini. "Kita cukup percaya diri mampu melewatinya," imbuhnya optimis.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira mengatakan Indonesia membutuhkan banyak wirausahawan muda jika ingin mencapai enam persen pertumbuhan ekonominya. Saat ini, jumlah pengusaha di Indonesia baru sekitar 20 persen.

Ia juga berharap nantinya banyak anak muda yang setelah lulus kuliah mau kembali ke kampung halamannya atau terjun ke desa-desa turut mengembangkan potensi ekonomi daerah berbasis sumber daya alam (SDA). Hal ini berkaca pada ketergantungan Indonesia terhadap barang komoditas.

Kedepannya diharapkan Indonesia tidak hanya bergantung dari penerimaan ekspor barang komoditas, namun juga penerimaan dari ekspor barang olahan. "Kami mendorong anak muda untuk melirik bisnis di sektor maritim dan argo industri," ujarnya.

Ia menjelaskan bisnis di sektor maritim dan argo industri masih banyak belum diminati oleh anak muda.  Hal itu karena, anak muda masih banyak fokus di perkotaan, bukan menyasar ke pedesaan.

Untuk menarik minat anak muda, Dody sendiri mengaku ikut menggeluti bisnis di argo industri. "Saya juga sudah masuk ke pertanian dan agro, jadi tidak melulu melirik bisnis di kota tapi juga di desa," jelas Anggawira.

Anggawira menambahkan, sektor pariwisata juga bisa dilirik pada tahun depan, karena Pemerintah saat ini sedang menggenjot terus jumlah wisatawan, yang ditargetkan bisa mencapai 20 juta orang di 2019.

"Industri ini dinilai akan terus bergerak tiap tahun dengan menghadirkan peluang yang menjanjikan. Wisman 20 juta bisa tercapai. Industri pariwisata juga sudah mulai bergerak," tutup Anggawira.

Kafe BCA merupakan forum berbagi insight dan pemahaman akan pelaksanaan service excellence di BCA dan perkembangannya di industri jasa lainnya. BCA mengadakan program Semua Beres Campaign, yang salah satu kegiatannya adalah forum Kafe BCA. Sudah tiga kali Kafe BCA diselenggarakan dengan membahas berbagai tema aktual dalam rangka memberikan nilai tambah bagi masyarakat.


(ROS)