Bankir: Perang Dagang Tidak Berdampak Signifikan ke Kredit Macet

Desi Angriani    •    Selasa, 10 Jul 2018 07:44 WIB
bcaPerang dagang
Bankir: Perang Dagang Tidak Berdampak Signifikan ke Kredit Macet
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (Foto: Medcom.id/Desi Angriani))

Jakarta: Direktur Utama PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Setiaatmadja meyakini imbas perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok tidak akan berdampak signifikan terhadap kenaikan rasio kredit bermasalah perbankan Indonesia. Dampak secara tidak langsung ini dinilai wajar jika terjadi pada satu atau dua perusahaan yang gagal bayar.

"Menurut saya, kalau kita mengikuti perkembangan baik-baik, NPL tidak akan terlalu gimana-gimana. Bahwa akan ada 1-2 perusahaan yang gagal bayar itu normal," kata Jahja, ditemui di Menara BCA, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin, 9 Juli 2018.

Menurutnya ancaman perang dagang lebih berdampak secara langsung terhadap sektor riil di Indonesia dibandingkan dengan sektor perbankan. Pasalnya, pemberlakuan tarif impor terhadap produk Tiongkok akan berdampak pada penurunan ekspor Indonesia berupa permintaan produk komoditi seperti batu bara dan biji besi.

Dalam jangka panjang, lanjutnya, berimbas pada penurunan daya beli masyarakat serta bertambahnya tingkat pengangguran. Tentu kondisi ini harus diperhatikan dengan cermat agar tidak menjalar ke sektor lain dalam struktur perekonomian.



"Dulu harganya bagus naik, sekarang turun lagi. Ekspor terkena lagi, daya beli di masyarakat juga terkena," imbuh dia.

Jahja menambahkan keberanian AS melakukan perang dagang lantaran ekonomi negeri Paman Sam tersebut dalam kondisi prima. Hal ini tampak dari rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS atau the Fed sebanyak 100 basis poin pada tahun ini.

"Ekonomi AS lagi bagus-bagusnya karenanya Trump berani perang dagang sama Tiongkok," pungkas dia.

Sebelumnya, Amerika Serikat resmi menabuh genderang perang dagang dengan memberlakukan bea masuk produk Tiongkok senilai USD34 miliar. Sebagi aksi balasan, Pemerintah Tiongkok memberlakukan tarif serupa.

 


(ABD)