BI Bali Ingin Besarkan Potensi Ekowisata Cokelat

   •    Sabtu, 10 Feb 2018 18:14 WIB
bank indonesiacokelat
BI Bali Ingin Besarkan Potensi Ekowisata Cokelat
Ilustrasi olahan cokelat. (FOTO: medcom.id/Eko Nordiansyah)

Bantul: Bank Indonesia (BI) ingin membesarkan potensi ekowisata cokelat yang ada di Kabupaten Jembrana, Bali, dengan melibatkan peran serta masyarakat mulai dari pembibitan, pengolahan hingga memaksimalkan potensi ekspor dan terintegrasi dengan pariwisata.

"Di Bali baru pada tahap memproduksi biji cokelat fermentasi, belum selengkap seperti yang ada di Yogyakarta," kata Kepala Divisi Advisory Pengembangan Ekonomi BI Bali Azka Subhan Aminurridho ketika meninjau proses pengolahan cokelat di Desa Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta, seperti dikutip dari Antara, Sabtu, 10 Februari 2018.

Azka mengatakan pengembangan cokelat di Yogyakarta sudah digarap mulai dari hulu ke hilir dengan melibatkan komunitas petani mulai dari pembibitan, penanaman, pengolahan cokelat bubuk menjadi produk makanan dan minuman, hingga desa wisata cokelat.

Menurut dia, dalam setiap proses tersebut memiliki nilai tambah masing-masing apabila produksi cokelat bisa dilakukan hingga menjadi bubuk dan makanan dan minuman dari cokelat.

"Kalau kualitas dari hulu seperti bibit dan prosesnya dilakukan lebih bagus, bukan tidak mungkin bisa memproduksi sampai menjadi bubuk. Jika sudah begitu, maka akan lebih bernilai lagi apalagi sampai ekspor," ucapnya.

Saat ini proses pembubukan cokelat belum bisa dilakukan oleh petani di Jembrana sendiri namun terhenti di salah satu perusahaan di Denpasar yang membeli dan mengolah biji fermentasi menjadi bubuk.

Meski para petani di Jembrana baru pada tahap memproduksi biji fermentasi cokelat namun menurut Azka, Bali masih bisa berbangga karena biji tersebut sudah masuk pasar ekspor ke sejumlah negara di antaranya Jepang, Prancis, dan Belanda.

Namun, lanjut dia, jumlahnya masih sedikit yakni kurang dari 10 ton dan untuk proses siap kirim juga menunggu terkumpul lebih banyak. Dia menilai biji fermentasi dari petani di Jembrana memiliki kualitas terbaik sehingga diterima pasar mancanegara yang dikelola oleh Koperasi Kerta Semaya.

Hal itu, kata dia, justru berbeda dengan produksi biji fermentasi cokelat di Desa Nglanggeran yang belum menembus pasar ekspor. Azka mengharapkan cita-cita pengembangan proses dari hulu ke hilir hingga terintegrasi menjadi desa wisata di Yogyakarta dapat juga dilakukan di Jembrana.

Di Kabupaten yang dikenal Bumi Makepung itu, lanjut Azka, sekitar 40 Subak di Jembrana siap mendukung produksi cokelat hingga menciptakan ekowisata di Desa Melaya.

Sementara itu pengelola Griya Cokelat Desa Nglanggeran, Gunungkidul, Sugeng Handoko mengatakan pihaknya mendapatkan bantuan berupa program pembinaan petani dan bantuan peralatan dari BI Yogyakarta.

Dia menjelaskan sekitar 645 petani yang tergabung dalam kelompok tani di desa itu ikut pelatihan termasuk beberapa di antara petani itu mengerjakan proses produksi cokelat seperti produk makanan dan minuman. Sebelum mendapatkan peningkatan kapasitas SDM, para petani di desa itu hanya bisa menjuak biji cokelat kering yang tentunya tidak memiliki nilai tambah optimal.

Saat ini setelah mampu mengolah menjadi bubuk hingga produk olahan dan desa wisata, produksi cokelat mendapatkan nilai tambah berlipat. Dari sekitar lima kilogram biji cokelat apabila diolah menjadi bubuk menjadi sekitar satu kilogram dengan penghasilan sekitar Rp250 ribu.

Apabila diolah menjadi produk makanan olahan dan minuman, maka nilainya akan bertambah menjadi sekitar Rp400 ribu, belum termasuk apabila langsung disajikan kepada wisatawan maka ada nilai tambah lagi.

"Kami merasa bersyukur bisa mengolah produk lokal unggulan menjadi produk siap jual jadi tidak dipermainkan pasar karena saat ini kami mampu mengolah sendiri, kami punya nilai tawar," pungkas Sugeng.


(AHL)