Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Potensial Dijadikan Area Pertanian

Anggi Tondi Martaon    •    Rabu, 15 Nov 2017 16:03 WIB
berita kementan
Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Potensial Dijadikan Area Pertanian
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (Foto:Dok.Kementan)

Hulu Sungai Selatan: Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman optimistis lahan rawa lebak dan pasang surut mampu digarap menjadi area pertanian. Ia meyakini, lahan tersebut memiliki potensi besar jika digarap dengan baik.

"Kami ingin membangunkan raksasa tidur di republik ini. Kita sudah swasembada pangan, sekarang kami ingin membangunkan raksasa tidur yaitu lahan pasang surut, dan lahan rawa lebak," kata Amran, usai menghadiri panen raya di lahan rawa lebak, di Desa Banua Hanyar, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Rabu 15 November 2017.

Total luas lahan pasang surut dan rawa lebak yang potensial digarap menjadi areal pertanian sekitar 10 juta hektare. Jika dikelola dengan baik, lahan tersebut diperkirakan tiga kali panen dalam setahun.

"Bisa kita bangunkan 100 ribu hektare di sini (Kabupaten Hulu Sungai Selatan), 500 ribu di Sumatera Selatan, dan di Kalimantan tengah seluas 300 ribu hektare," katanya.

Amran mengklaim, jika lahan pasang surut dan rawa lebak diurus dengan baik, maka Indonesia bakal menjadi lumbung pangan dunia.

"Contoh, di lahan 1 juta hektare bisa tiga kali tanam, itu berarti tiga juta. Kalau dikalikan enam, sudah 18 juta ton gabah. Itu bisa kita ekspor dan memberi makan se-Asia Tenggara," ujar Amran, yakin.

Guna mewujudkan hal tersebut, Kementan mempersiapkan berbagai hal, di antaranya menyediakan alat bantu pertanian 100-300 unit, dan 3-4 ribu unit traktor besar untuk mengolah lahan pasang surut dan rawa lebak di seluruh Indonesia.

"Alat ini nanti yang akan menggali, membuat tanggul-tanggul untuk dijadikan lahan pertanian yang panen tiga sekali setahun," ujarnya menjelaskan.

Selain itu, Amran menyebutkan bahwa pihaknya juga akan menggandeng Gerakan Pemuda Tani (Gempita). Mereka akan dilatih menjadi operator alat-alat tersebut.

"Dan mereka nanti akan mendapatkan penghasilan jauh lebih tinggi, bisa dapat Rp1 juta per hari. Kalau sebulan bisa dapat Rp25-30 juta. Lebih tinggi daripada gaji menteri," kata Amran.


(ROS)