CPO Berpeluang Kembali Melemah

   •    Kamis, 07 Dec 2017 15:07 WIB
CPO Berpeluang Kembali Melemah
Ilustrasi petani sawit. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Jakarta: Pelemahan harga crude palm oil (CPO) dapat kembali berlanjut pada perdagangan hari ini di tengah ketakutan investor terhadap prospek kenaikan cadangan minyak sawit Malaysia di akhir November.

Departemen Riset Tim Monex Investindo Futures menjelaskan, dalam survei Reuters menunjukkan penurunan ekspor lebih besar dari penurunan produksi.

Berdasarkan survei Reuters menunjukkan bahwa cadangan kemungkin akan melonjak 11,4 persen menjadi 2,44 juta ton dari akhir Oktober, itu akan menjadi level tertinggi sejak Desember 2015 dan menandai kenaikan lima bulan beruntun.

"Kenaikan cadangan dapat menjadi sentimen negatif untuk harga minyak sawit, yang sudah anjlok tiga kali dari empat sesi terakhir," tutur analisa tersebut, seperti dikutip dalam hasil risetnya, Kamis, 7 Desember 2017.

Produksi minyak nabati, yang biasanya digunakan untuk membuat minyak goreng, sabun hingga kosmetik, diperkirakan akan turun sekitar tiga persen di November dari bulan sebelumnya menjadi 1,95 juta ton.

Sementara itu untuk data ekspor di November diperkirakan akan melemah, turun lebih cepat dari produksi untuk anjlok enam persen dari bulan sebelumnya menjadi 1,45 juta ton, ini akan menjadi penurunan bulanan pertama dalam lima bulan.

Adapun untuk pergerakan ringgit, pada pukul 11.18 WIB terpantau melemah 0,17 persen di level 4,0825 per dolar AS. Pelemahan ringgit dapat menjadi katalis positif karena akan membuat harga CPO menjadi lebih murah untuk pemilik mata uang lainnya.

Potensi pergerakan harga CPO pada hari ini akan bergerak di rentang 2.420-2.460 ringgit per ton. Break di bawah level 2.420 dapat memicu penurunan lebih lanjut menuju ke area 2.390. Sementara itu untuk sisi atasnya, break di atas level 2.460 akan menjadi pemicu kenaikan lebih lanjut menuju ke area 2.500.
(AHL)