Budi Gunadi Sadikin Diangkat jadi Direktur Utama Inalum

Annisa ayu artanti    •    Kamis, 14 Sep 2017 10:37 WIB
inalum
Budi Gunadi Sadikin Diangkat jadi Direktur Utama Inalum
Budi Gunadi Sadikin (kanan). (FOTO: MI/IMMANUEL ANTONIUS )

Metrotvnews.com, Jakarta: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengangkat Budi Gunadi Sadikin menjadi Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Pengangkatan Budi ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno. Di mana surat Keputusan tersebut diserahkan oleh asisten deputi. Budi menggantikan direktur utama sebelumnya, Winardi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Metrotvnews.com, Kamis 14 September 2017, Winardi sudah mendatangi ke Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta sekitar pukul 08.00 WIB. Usai rapat pukul 10.29 WIB, Winardi mengatakan bahwa RUPS sudah selesai dan resmi mengangkat Budi Gunadi Sadikin menjadi Direktur Utama Inalum.

"Sudah selesai (RUPS). Direktur Utama (Inalum) dari saya diserahkan ke Budi Gunadi Sadikin," kata Winardi di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Kamis 14 September 2017.

Budi Gunadi Sadikin sebelumnya adalah mantan direktur utama Bank Mandiri dan orang yang dipercaya oleh Rini Soemarno sebagai Staf Ahli Menteri BUMN. Budi Gunadi Sadikin saat ini juga sebagai salah satu dari perwakilan tim Kementerian BUMN untuk divestasi PT Freeport Indonesia.

Pada pertengahan tahun lalu, Budi Gunadi Sadikin juga sudah digadang-gadang menjadi pimpinan holding BUMN pertambangan. Holding BUMN pertambangan terdiri dari empat perusahaan BUMN yang bergerak di sektor tambang yakni PT Inalum yang rencananya menjadi leader holding BUMN pertambangan dan tiga perusahaan lainnya PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Timah, dan PT Bukit Asam Tbk.

Inalum merupakan sebuah perusahaan patungan antara pemerintah Indonesia dan didirikan di Jakarta pada 6 Januari 1976. Perusahaan ini membangun dan mengoperasikan Proyek Asahan, sesuai dengan perjanjian induk.

Perbandingan saham antara pemerintah Indonesia dengan Nippon Asahan Aluminium Co., Ltd, pada saat perusahaan didirikan adalah 10 persen dengan 90 persen. Pada Oktober 1978 perbandingan tersebut menjadi 25 persen dengan 75 persen dan sejak Juni 1987 menjadi 41,13 persen dengan 58,87 persen. Serta sejak 10 Februari 1998 menjadi 41,12 persen dengan 58,88 persen.

Secara de facto, perubahan status Inalum dari PMA menjadi BUMN terjadi pada 1 November 2013 sesuai dengan kesepakatan yang tertuang dalam Perjanjian Induk.

Pemutusan kontrak antara Pemerintah Indonesia dengan Konsorsium Perusahaan asal Jepang berlangsung pada 9 Desember 2013, dan secara de jure Inalum resmi menjadi BUMN pada 19 Desember 2013 setelah Pemerintah Indonesia mengambil alih saham yang dimiliki pihak konsorsium. Inalum resmi menjadi BUMN ke-141 pada 21 April 2014 sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2014.


(AHL)