Mendag Optimistis Kinerja Ekspor Perbaiki Neraca Perdagangan

Ilham wibowo    •    Senin, 03 Dec 2018 19:19 WIB
neraca perdagangan indonesiaekspor-impor
Mendag Optimistis Kinerja Ekspor Perbaiki Neraca Perdagangan
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita - - Foto: Medcom.id/ Kautsar Widya

Jakarta: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita optimistis kinerja ekspor yang baik pada Oktober 2018 berpeluang memperbaiki neraca perdagangan. Sejumlah komoditas dinilai mengalami pertumbuhan ekspor yang positif. 

Kinerja ekspor Oktober 2018 tercatat kembali meningkat 5,9 persen menjadi sebesar USD15,80 miliar dibanding bulan sebelumnya (MoM). Peningkatan ini terdiri dari ekspor nonmigas sebesar USD14,3 milliar atau naik 5 persen, dan ekspor migas sebesar USD1,48 miliar atau naik 15,2 persen.

Secara kumulatif, ekspor selama Januari-Oktober 2018 mencapai USD150,88 miliar atau naik 8,8 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan nilai ekspor tersebut didukung ekspor migas sebesar 9,9 persen, dan nonmigas sebesar 8,7 persen. 

“Penguatan ekspor ini menjadi peluang memperbaiki kinerja neraca perdagangan,” ungkap Enggar melalui keterangan resmi, Senin, 3 Desember 2018. 

Mendag mengungkapkan, kenaikan ekspor nonmigas periode Januari-Oktober 2018 didorong meningkatnya ekspor pertambangan sebesar 27,5 persen, dan produk industri sebesar 5,7 persen, meskipun ekspor pertanian turun 8,5 persen. Barang tambang yang memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan ekspor adalah batu bara (HS 27) dan bijih, kerak, dan abu logam (HS 26). 

Ekspor batu bara naik sebesar 19,6 persen dipengaruhi oleh kenaikan volume dan harga 
ekspornya. Sementara ekspor bijih, kerak dan abu logam naik 69,4 persen karena volume ekspornya melonjak sebanyak 249,6 persen.

Produk industri yang turut berperan pada tercapainya target ekspor nonmigas antara 
lain besi dan baja (HS 72) naik 91,7 persen, berbagai produk kimia (HS 38) naik 32,2 persen, 
kertas/karton naik 20,6 persen, bubur kertas naik 23,5 persen, produk besi dan baja (HS 73) naik 26,6 persen, serta aluminium (HS 76) naik 45 persen.

Impor bahan baku atau penolong Oktober 2018 juga berperan signifikan terhadap kenaikan impor sebesar 20,6 persen atau USD 17,62 miliar dibanding bulan sebelumnya (MoM). Kenaikan ini terdiri dari impor nonmigas USD 14,71 miliar atau naik 19,4 persen, dan impor migas USD 2,91 miliar atau naik 27,0 persen. 

Berdasarkan kegunaan barangnya, impor bahan baku/penolong menyumbang kenaikan impor terbesar di bulan Oktober 2018. Impor bahan baku/penolong naik 22,6 persen, dan impor barang modal naik 15,6 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara impor barang konsumsi naik 13,3 persen, namun masih turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Bahan baku/penolong yang berperan signifikan terhadap kenaikan impor antara lain bahan baku olahan untuk industri berupa baja lembaran, gulungan, dan kawat baja, bahan bakar dan pelumas olahan, serta suku cadang dan perlengkapan barang modal.

Sementara barang modal yang mendorong kenaikan impor antara lain eskavator, buldozer, main board PCBA, telepon genggam, dan truk sampah. Sedangkan untuk barang konsumsi yang memberikan kontribusi pada kenaikan impor adalah barang konsumsi setengah tahan lama, dan barang konsumsi tahan lama antara lain gula, buah-buahan, susu, mentega, dan telur, serta bahan bakar & pelumas (olahan), alat angkutan bukan untuk industri, dan mobil penumpang. 

Secara kumulatif, impor selama Januari-Oktober 2018 mencapai USD 156,39 miliar atau naik 23,4 persen periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didukung oleh kenaikan impor migas sebesar 27,7 persen, dan nonmigas sebesar 22,6 persen.

Memperbaiki Neraca Perdagangan 

Neraca perdagangan Oktober mengalami defisit sebesar USD1,82 miliar terdiri dari defisit neraca perdagangan nonmigas sebesar USD393,2 juta, dan defisit neraca perdagangan migas sebesar USD1,43 milliar. 

“Neraca perdagangan nonmigas Oktober 2018 yang mengalami defisit merupakan tekanan bagi neraca perdagangan secara keseluruhan, di mana pada bulan sebelumnya mengalami surplus cukup tinggi sebesar USD1,3 milliar,” ujar Enggar 

Lebih lanjut, Enggar mengungkapkan neraca perdagangan migas Oktober 2018 mengalami defisit yang semakin besar dari bulan sebelumnya, yaitu dari USD1,0 milliar menjadi USD1,4 milliar. Secara kumulatif neraca perdagangan selama Januari-Oktober 2018 mengalami defisit sebesar USD5,5 milliar, terdiri dari surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar USD5,2 milliar dan defisit neraca perdagangan migas sebesar USD10,7 milliar. 

“Tingginya defisit neraca perdagangan migas dipicu oleh tingginya permintaan impor hasil minyak akibat kenaikan harga minyak dunia. Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas mengalami penurunan dari tahun sebelumnya akibat kenaikan impor bahan baku dan barang modal,” paparnya.

Pemerintah saat ini mengupayakan pencapaian target ekspor nonmigas 2018 dengan
menjaga dan terus mendukung peningkatan ekspor produk yang telah tumbuh di atas target. 
Produk tesebut antara lain batubara (HS 27); besi dan baja (HS 72); bijih, kerak & abu logam (HS 26); berbagai produk kimia (HS 38); kertas/karton (HS 48); barang dari kayu HS 44); bubur kertas (HS 47); bahan kimia organik (HS 28); benda-benda dari besi dan baja (HS 73); dan alumunium (HS 76).

Selain itu, Pemerintah juga berupaya mendorong peningkatan ekspor produk yang tumbuh di bawah target, namun berpotensi mendukung pencapaian target. Produk tersebut antara lain kendaraan dan suku cadangnya (HS 87); barang-barang rajutan (HS 61); pakaian jadi bukan rajutan (HS 62); mesin/peralatan listrik (HS 85); alas kaki (HS 64); plastik dan produk plastik (HS 39); perhiasan (HS 71); serat stapel buatan (HS 55); ikan dan udang (HS 03); serta kakao/coklat (HS 18). 

Upaya pengendalian impor nonmigas juga dilakukan yaitu dalam jangka pendek perlu mengembalikan pengawasan impor ke kawasan pabean terutama untuk produk yang berperan mendorong kenaikan impor tinggi, seperti impor besi dan baja (HS 72). Dalam jangka menengah panjang pun dinilai perlu untuk mendorong substitusi impor melalui peningkatan kapasitas produksi industri substitusi impor.

 


(Des)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

16 hours Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA