Kenaikan Tarif Kargo Ubah Peta Logistik Indonesia

Desi Angriani    •    Kamis, 24 Jan 2019 11:17 WIB
logistikpesawatpenerbangankonsumen
Kenaikan Tarif Kargo Ubah Peta Logistik Indonesia
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Jakarta: Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menilai kenaikan tarif kargo udara atau Surat Muatan Udara (SMU) pada sejumlah maskapai akan mengubah peta logistik Indonesia. Pasalnya, kenaikan itu membuka peluang-peluang baru jasa angkut barang melalui jalur darat.

"Suatu kenyataan yang akan mengubah landscape logistik di Indonesia, dan akan membuka peluang-peluang baru dari sisi logistik. Jadi kita harus menerimanya dan memanfaatkan," ujar Ketua Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita, saat dihubungi Medcom.id, di Jakarta, Kamis, 24 Januari 2019.

Zaldy mengungkapkan peluang itu bisa tercipta dari hadirnya tol Trans Jawa yang menghubungkan Jawa Barat hingga Jawa Timur. Pengiriman barang di dalam Pulau Jawa pun bakal lebih mudah dan murah. Hal ini tentu berdampak pada penurunan pelanggan kargo udara.

"Tol Trans Jawa juga menjadi alternatif lain untuk pengiriman cepat di Jawa karena untuk pengiriman ke Jateng dan Jatim sudah bisa kurang dari 24 jam," imbuh dia.

Namun demikian, lanjutnya, perubahan peta logistik Tanah Air diharapkan tidak menjadi ladang mencari keuntungan melalui kartel. "Tapi jangan sampai kenaikan SMU mencari keuntungan berlebih," tambah Zaldy.

Sementara itu, Ketua Umum Asperindo M Feriadi mengatakan naiknya tarif SMU berimbas pada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang memanfaatkan jasa pengiriman barang dan platform e-commerce.

"Iya betul dan sekarang banyak seller kategori UMKM ini terganggu dan ini tentu berdampak," katanya saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Rabu, 23 Januari 2019.

Di samping itu, masih kata Feriadi, tingginya biaya kargo udara juga memberatkan pengusaha jasa ekspedisi lantaran kesulitan menekan harga khususnya pengiriman di luar Pulau Jawa. Apalagi pengusaha jasa pengiriman ekspres tidak hanya melayani customer ritel melainkan juga korporasi.

Dengan kata lain, kontrak pengiriman barang yang sudah diteken tidak bisa diubah sewaktu-waktu atas perubahan tarif SMU. "Nah pada saat kenaikan itu terjadi sampai beberapa kali dan jumlah signifikan kami merasa ini menjadi beban yang sangat berat, pelanggan pun pasti mengeluh ke kita," pungkasnya.

 


(ABD)