Tahun Politik jadi Momen Tepat Berinvestasi

Desi Angriani    •    Rabu, 10 Jan 2018 16:20 WIB
investasi
Tahun Politik jadi Momen Tepat Berinvestasi
Illustrasi. ANT/Sigid Kurniawan.

Jakarta: Bisnis investasi sepanjang 2018 masih menjadi primadona meskipun agenda politik berupa Pilkada serentak dan Pilpres 2019 semakin padat.

Peneliti Institute Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan sektor investasi yang akan tumbuh positif di tahun politik adalah makanan minuman, rokok, pakaian konveksi, restoran dan perhotelan, serta jasa periklanan.

Industri makanan minuman diproyeksi tumbuh hingga sembilan persen disusul oleh restoran dan perhotelan sebagai tempat konsolidasi partai politik dan calon kepala daerah.

"Dengan kondisi tersebut di 2018 merupakan tahun yang tepat untuk melakukan investasi," kata Bhima saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Rabu, 10 Januari 2018.

Bhima menambahkan penyelenggaraan event akbar seperti pilkada serentak justru menjadi dorongan positif bagi perekonomian nasional. Dampak pemilu bakal mendongkrak pertumbuhan ekonomi sebesar 0,1 sampai 0,2 persen.

"Itu artinya jika ekonomi 2017 terealisasi 5,05 persen maka ekonomi tahun depan setidaknya bisa tumbuh 5,1 persen," tambahnya.

Di tempat terpisah Head of Wealth Management and Retail Digital Business Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan instrumen seperti reksa dana memiliki potensi yang paling tinggi untuk dimanfaatkan oleh masyarakat ke depan. Selain dikelola oleh manajer investasi, instrumen ini memiliki tingkat pengembalian yang cukup baik.

"Salah satu instrumen yang mendukung adalah reksa dana, bedanya dengan saham, reksa dana dikelola oleh manajer investasi, dan setiap reksa dana sudah ada temanya, misalnya 2018 ada konsumsi, infrastruktur," ungkap Ivan.

Meski demikian dia menilai masih banyak masyarakat yang berinvestasi ke tabungan dan membeli emas. Itulah sebabnya jumlah pemegang reksa dana di Indonesia baru mencapai 570 ribu atau sekitar 0,7 persen dari total penduduk Indonesia.

"Jumlah ini jauh dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai 40 persen, Thailand mencapai 30 persen," tutur dia.

Dia mencontohkan seperti dynamic model porfolio yang merupakan sebuah konsep investasi yang tidak hanya fokus pada perpaduan kelas aset berdasarkan profil risiko nasabah, namun juga berdasarkan risiko pasar.

Dynamic model portfolio akan mengumpulkan berbagai informasi pasar dengan memilah mana yang paling relevan untuk setiap nasabah berdasarkan profil risiko dan tujuan investasi.

"Nasabah pun dapat menggerakkan asetnya secara dinamis, tidak harus sama dengan proporsi investasi yang ditentukan di awal," pungkas dia.



(SAW)


Perpres DNI Rampung Pekan Depan

Perpres DNI Rampung Pekan Depan

1 week Ago

Pemerintah mempercepat penyelesaian rancangan per-aturan presiden (Perpres) mengenai Daftar Neg…

BERITA LAINNYA