Penjualan Ritel Menguat, Pertumbuhan Ekonomi Menjanjikan

Ade Hapsari Lestarini    •    Jumat, 08 Jun 2018 15:06 WIB
ritel
Penjualan Ritel Menguat, Pertumbuhan Ekonomi Menjanjikan
Ilustrasi industri ritel. (FOTO: ANTARA/Adeng)

Jakarta: Optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia meningkat pasca-laporan penjualan ritel yang menguat 4,1 persen di April dibandingkan tahun sebelumnya. Pencapaian penjualan ritel yang sangat mengesankan di April didukung oleh peningkatan permintaan bahan bakar minyak (BBM), makanan dan minuman, serta tembakau.

Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Rill (IPR) pada April 2018 meningkat 4,1 persen (yoy) dari periode Maret 2018 sebesar 2,5 persen (yoy). Penjualan tertinggi tercatat pada kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang tumbuh 11,5 persen (yoy). Angka ini meningkat dibandingkan 5,9 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

"Penjualan ritel terus menguat sehingga prospek pertumbuhan Indonesia tetap sangat menjanjikan karena konsumsi domestik berkontribusi lebih dari separuh PDB Indonesia," tutur Research Analyst ForexTime (FXTM) Lukman Otunuga dalam analisanya, di Jakarta, Jumat, 8 Juni 2018.

Namun demikian, tambah dia, Lukman menyoroti pelemahan rupiah pasca-laporan ekonomi yang positif ini. Harga berada sedikit di atas Rp13.850 per USD, saat laporan ini dituliskan.

"Ada spekulasi bahwa BI mungkin akan meningkatkan suku bunga acuan lagi, sehingga rupiah mungkin akan tetap menguat," tutur dia.

Gerak Pasar Stabil Jelang KTT-G7

Di sisi lain, dia memprediksi investor kemungkinan akan berhati-hati menjelang KTT-G7 ke-44 yang akan dimulai pada perdagangan Jumat. Volatilitas pasar juga mungkin sedikit menurun karena antisipasi berbagai skenario yang mungkin terjadi saat Donald Trump bertemu dengan G7 di Quebec, Kanada.

Direktur Dewan Ekonomi Nasional, Larry Kudlow sebelumnya menyatakan bahwa Trump akan tetap mempertahankan posisi tegas dan kuat mengenai perdagangan, sehingga ekspektasi tercapainya resolusi pekan ini tetap tipis.

"Walau demikian, investor harus selalu siap menghadapi segala hal tak terduga sehubungan dengan pemerintahan Trump yang sering memberi kejutan," tutur dia.

Isyarat bahwa Amerika Serikat mungkin mengurangi tarif baja dan aluminium untuk Kanada dan Uni Eropa dapat sedikit meredakan kekhawatiran mengenai perang perdagangan.

Minyak Mentah Stagnan

Selain itu, dia memperkirakan pasar minyak mentah sepertinya akan tetap stagnan menantikan rapat OPEC yang akan digelar pada 22 Juni. Depresiasi minyak dalam beberapa pekan terakhir terus menyoroti bahwa faktor risiko geopolitik tidak mampu mempertahankan reli bullish.

Pasar lebih khawatir terhadap masalah oversuplai dan ini tergambarkan dengan jelas pada aksi harga yang negatif. Ekspektasi semakin besar bahwa OPEC dan mitranya akan mengurangi pembatasan produksi guna menanggapi penurunan produksi Venezuela dan Iran, sehingga WTI dapat semakin merosot.

"Perlu kita ingat bahwa peningkatan produksi Rusia dan OPEC serta kenaikan produksi minyak serpih AS dapat memperburuk masalah oversuplai dan akhirnya merusak ketertarikan investor terhadap komoditas ini," tuturnya.

Sedangkan dari sisi teknis, minyak mentah WTI tertekan pada grafik harian. Penurunan berulang kali di bawah USD66 per barel dapat menyebabkan depresiasi lebih lanjut menuju USD64,30 kemudian USD64 per barel.


(AHL)


Struktur BP Batam Dipastikan Tidak Berubah

Struktur BP Batam Dipastikan Tidak Berubah

10 hours Ago

Struktur organisasi dari BP Batam dipastikan tidak berubah meski figur pemimpin dalam organisas…

BERITA LAINNYA