Suplai Beras di PIBC Dilaporkan Meningkat

M Studio    •    Selasa, 13 Feb 2018 15:41 WIB
berita kementan
Suplai Beras di PIBC Dilaporkan Meningkat
(Foto:Antara/Dhemas Reviyanto)

Jakarta: Stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) saat ini masih menggunakan beras lokal, beras impor belum masuk ke Cipinang. Demikian dijelaskan Direktur Food Station Arief Prasetyo.

Arief berharap panen saat ini yang sedang berlangsung berjalan lancar. "Saya sudah melihat panen di Demak, Kudus, Karanganyar, Banyuasin. Bahkan, semua di Jawa Tengah  sedang panen. Memang hasil panennya lebih banyak mengisi gudang daerah setempat," kata arief.

Tercatat pada Senin, 12 Februari 2018, beras yang masuk PIBC sebanyak 5.000 ton, dari sebelumnya sejumlah 1.000 ton. Itu berarti berangsur terjadi peningkatan. Beras dari hasil panen petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah mulai masuk ke pasar lokal, pasar di Karawang, dan PIBC.  

Sehari sebelumnya, mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih angkat bicara mengenai anjloknya harga gabah petani yang belum sebanding dengan penurunan harga beras di pasaran. Padahal, beras impor 500 ribu ton dari negara tetangga belum masuk. 

"Kan (problem harga) ini dipengaruhi dua kekuatan. Pertama, kekuatan pengaruh impor beras yang sudah mau dan akan masuk. Kedua, pengaruh panen raya. Jadi, kala panen naik dan  impor masuk, harga beras dan padi (gabah) turun. Ini soal timing saja,” kata Bungaran. 

Namun yang menjadi problem, kata Bungaran, yang dijual petani ini kebanyakan adalah gabah, bukan beras. Sehingga ketika terjadi panen raya di mana produksi meningkat, sementara impor belum sepenuhnya masuk, menjadi dalih pedagang atau perusahaan penggilingan padi belum mau membeli gabah petani, dan tetap mempertahankan stok yang masih ada. Apalagi gabah ini termasuk komoditas pertanian yang bisa bertahan cukup lama. 

"Namanya pedagang kan pasti hitung untung rugi. Makanya, kita jangan mengandalkan pedagang, tapi pemerintah yang masuk ke dalamnya. Bulog ini walau sendirian dengan stok di bawah 10 persen saja sebenarnya sudah mempengaruhi harga,” ujar Bungaran.

Cara pedagang yang menunggu timing ini pula, menurut Bungaran, menjadi penyebab gabah anjlok. Sementara, di sisi lain harga beras penurunannya tidak terlalu signifikan.

"Gabah ini juga kan tidak langsung masuk ke konsumen, harus diubah dulu menjadi beras, kemudian dibawa ke kota. Nah, ini kan butuh waktu. Belum jadi suplai di level konsumen, (tapi) impornya sudah mau masuk. Tapi nanti ini pengaruhnya di petani. Gabah turun, harga beras turun kalau panen sudah sempurna dan impor sudah masuk. Jadi, soal timing saja di mana kecenderungannya nanti akan merugikan petani,” katanya.

Akibatnya, lanjut dia, petani tidak bisa lagi mengharapkan harga yang ideal karena impor sudah masuk dan produksi dalam negeri melimpah, mengingat pada Februari-Maret akan ada panen raya. Karena itu, untuk mengantisipasi harga gabah petani jatuh lebih dalam lagi, dia meminta Bulog harus segera melakukan pembelian. Di samping menjaga harga pembelian di tingkat petani, juga menjadi momentum bagi Bulog untuk segera mengisi stok yang yang makin menipis. 

“Supaya harga petani jangan turun, Bulog harus bermain cepat melakukan pembelian. Coba lihat datanya di wilayah mana saja yang segera panen bersiap disitu. Apalagi masalahnya ini kan ada juga musim hujan, sewaktu panen tidak ada matahari, sementara alat pengering sangat terbatas. Ini juga sangat berpengaruh bagi petani,” katanya.

Selain itu, dia menyarankan ada baiknya Bulog melakukan evaluasi terhadap target impor yang sebelumnya mencapai 500 ribu ton, mengingat harga di level petani sudah turun. “Jadi, Bulog laksanakan saja tugasnya,” katanya.

Mengenai target serap gabah 4,4 juta ton dari petani hingga Juli nanti, Bungaran optimistis hal itu bisa tercapai. Toh, sekarang sudah banyak wilayah yang panen dan harga turun. “Ini bukan persoalan sulit atau mudah. Tapi sudah menjadi tugasnya Bulog. Kalau ada kesulitan pasti akan ada kesulitan. Selesaikan saja kesulitan itu. Begitu. Jadi jangan cenderung mengimpor,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, Petani di wilayah Jawa Tengah menjerit harga gabah anjlok hingga Rp3.800 per kilogram. Sayangnya, Bulog belum banyak melakukan aktivitas pembelian gabah. Sebagai upaya memperkuat beras cadangan pemerintah yang juga ikut anjlok. "Harga gabah sekarang turun Rp3.800 per kilogram. Turunnya harga gabah ini merata di seluruh wilayah Grobogan," jelas Kastuari, petani di Desa Menduran, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan.


(ROS)

Pelopor Teh Celup itu Harus Tumbang

Pelopor Teh Celup itu Harus Tumbang

14 hours Ago

Pailitnya Sariwangi menjadi salah satu berita yang cukup mengejutkan. Padahal, Sariwangi telah …

BERITA LAINNYA