Go-Jek Berkontribusi Rp9,9 Triliun/Tahun ke Ekonomi RI

Eko Nordiansyah    •    Kamis, 22 Mar 2018 13:11 WIB
gojek
Go-Jek Berkontribusi Rp9,9 Triliun/Tahun ke Ekonomi RI
Peneliti LD FEB UI Paksi CK Walandauw. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Jakarta: Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyebutkan keberadaan aplikasi on-demand Go-Jek memberikan dampak sosial ekonomi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Tercatat Go-Jek berkontribusi sebesar Rp9,9 triliun per tahun terhadap perekonomian Indonesia.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan LD FEB UI ini, sebesar Rp8,2 triliun kontribusi Go-Jek terhadap perekonomian disumbangkan melalui penghasilan mintra pengemudi. Sedangkan sisanya sebesar Rp1,7 triliun disumbangkan melalui penghasilan mitra Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

"Angka Rp8,2 triliun adalah perbedaan antara sebelumnya berapa dan sekarang berapa," kata Peneliti LD FEB UI Paksi CK Walandauw dalam konferensi pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 22 Maret 2018.

Diperkirakan, terdapat tambahan sebesar Rp682,6 miliar per bulan yang masuk ke ekonomi nasional semenjak pengemudi bergabung dengan Go-Jek. Sementara dari mitra UMKM yang bergabung dengan Go-Food diperkirakan ada tambahan sebesar Rp138,6 miliar per bulan yang masuk ke ekonomi nasional.

Sementara dari sisi konsumen, sebanyak 89 persen mengatakan bahwa Go-Jek telah memberikan dampak yang agak baik sampai dengan sangat baik bagi masyarakat umum. Jika Go-Jek berhenti beroperasi, 78 persen konsumen menyatakan bahwa hal itu akan membawa dampak agak buruk sampai dengan sangat buruk bagi masyarakat.

"Artinya bahwa masyarakat punya option lebih banyak untuk transportasi melalui Go-Jek atau beli makanan melalui Go-Food. Apalagi 90 persen konsumen merasakan dampak positif dari keberadaan Go-Jek dan 77 persen merasa menjadi lebih melek digital sejak menjadi pengguna," jelas dia.

Survei sendiri melibatkan lebih dari 7.500 responden yang terdiri dari 3.315 pengemudi Go-Jek roda dua, 3.465 konsumen, serta 806 mitra UMKM. Survei dilakukan di sembilan wilayah, yakni Jabodetabek, Bandung, Bali, Balikpapan, Yogyakarta, Makassar, Medan, Palembang, dan Surabaya.

 


(AHL)