Menko Darmin Bahas Persiapan Pertemuan Kemendag-USTR

Kautsar Widya Prabowo    •    Rabu, 11 Jul 2018 10:40 WIB
Perang dagang
Menko Darmin Bahas Persiapan Pertemuan Kemendag-USTR
Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: MI/Panca Syurkani)

Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Koordinator bidang Perekonomian mengadakan rapat koordinasi (rakor) untuk membahas persiapan pertemuan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dengan Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat atau United States Trade Representative (USTR), yang dijadwalkan akhir Juli.

Pembahasan ini terkait keputusan Amerika Serikat (AS) ingin mencabut 124 produk-produk asal Indonesia yang menerima Generalized System' of Prefernces (GSP) atau bebas bea masuk.

Menteri Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan Indonesia sudah melakukankomunikasi dengan USTR melalui surat menyurat. Saat ini Indonesia sedang dikaji dalam pencabutan GPS bersama negara Brasil dan Kazakhstan.

"Pagi ini kita mau rapat untuk siapkan bahan-bahan Mendag bertemu dengan Mendag (USTR) sana, tidak lama juga paling akhir bulan ini," ujar Darmin di Gedung Kementerian Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu, 11 Juli 2018.

Ia menambahkan, Indonesia dituding menjadi negara ke 16 yang menyebabkan AS mengalami defisit hingga USD56,6 miliar atau sekitar Rp778 triliun. Angka tersebut yang tertinggi sejak Oktober 2008.

"Sekarang AS menganggap Indonesia itu masuk negara yang membuat dia (AS) defisit besar, kita nomor 16," tambahnya.

Selain itu, mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut menyakini dengan dicabutnya GSP pada produk-produk Indonesia menyebabkan tingginya harga jual barang, lantaran tidak lagi mendapat fasilitas bea bebas masuk.

"Fasilitasnya (GSP) itu kita bisa mengekspor barang ke sana dengan bea masuk rendah. Kita tentu barang-barangnya lebih mahal nantinya," imbuhnya.

Lebih lanjut, rakor yang membahas antisipasi evaluasi AS terhadap GSP akan dipimpin langsung Menko Perekonomian Darmin Nasution, yang rencananya akan dihadiri oleh Mendag Enggartiasto Lukita, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong, serta kementerian dan lembaga yang diwakilkan.

Sebelumnya, Enggar telah melakukan lobi kepada USTR. Bahkan, Mendag telah berbicara dengan Duta Besar AS untuk Indonesia mengenai perang dagang ini.

Menurutnya perang dagang yang terjadi antara AS dengan Tiongkok sekarang ini akan berdampak buruk bukan hanya bagi kedua negara tetapi juga perdagangan internasional. Untuk itu, Enggar berharap, lobi yang dilakukan bisa mengurangi ketegangan akibat kebijakan perang dagang AS.

"Kita berpendapat bahwa perang dagang itu sesuatu yang tidak baik karena nanti perang dagang antara AS dengan Tiongkok, dengan Kanada, itu akan memberi dampak yang tidak baik bagi perdagangan. Kalau kita sudah menyikapi itu, kan kalau bisa kita lakukan lobi kenapa tidak," jelas dia.

 


(AHL)


Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

3 hours Ago

Perang dagang yang kini tengah berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok secara langs…

BERITA LAINNYA