David Sutatip, Pengusaha Alat Berat Kategori 'Kelas Berat' (Bagian 1)

M Studio    •    Rabu, 30 Nov 2016 00:00 WIB
berita bca
David Sutatip, Pengusaha Alat Berat Kategori 'Kelas Berat' (Bagian 1)
David Sutatip (Foto:Dok.BCA)

Metrotvnews.com, Jakarta: Memasuki bisnis tambang memang sangat menjanjikan. Tidak sebandingnya antara pasokan dan tingginya konsumsi membuat harga komoditas tambang menjadi tinggi. Tak heran, keuntungan yang diraih pun cukup besar. Sehingga, banyak orang yang ingin masuk ke bisnis ini.

Hal ini pula yang dilakukan oleh David Sutatip. Mulai 2007, ia mengalihkan bisnisnya ke dunia pertambangan dengan menyewakan alat berat. "Saya mendapatkan masukan dari banyak orang, kalau mau untung besar ya harus masuk ke bisnis pertambangan," kata dia.

Menurut David, pada saat itu Indonesia sedang booming batubara. Banyak orang yang ingin menambang batubara di Banjarmasin. Namun, ketersediaan alat berat sangat minim. Banyak pengusaha di Banjarmasin yang kesulitan untuk mendapatkan alat berat. Untuk mendapatkan alat berat harus inden selama satu hingga dua tahun.  

Karena kondisi tersebut, David menilai prospek berbisnis sewa alat berat sangat menjanjikan. Walau belum memiliki pengalaman di bisnis sewa menyewa alat berat, David memberanikan diri untuk memesan alat berat kepada Trakindo.
 
"Awalnya, saya hanya memesan alat berat sebanyak 20. Lalu, saya tambah lagi sebanyak 10. Lalu nambah lagi dan terus nambah order. Hingga pada 2008, order alat berat saya sudah mencapai 50 unit. Padahal, belum memiliki klien yang akan menyewa alat berat pesanan saya," ungkap dia.

Banyaknya alat berat yang dipesannya membuat pihak Trakindo bingung. Mereka menanyakan alat berat pesanannya akan digunakan untuk apa. "Saya sampai dibilang gendeng (gila) oleh meraka," ungkap dia. Apalagi, David merupakan orang baru yang bergerak di bisnis alat berat dan tidak memiliki konsesi pertambangan untuk ditambang.

Namun, David percaya spekulasi yang dilakukannya akan membuahkan hasil. Banyaknya pesanan ini dilakukan agar ia mendapat perhatian Trakindo. David akan diberikan prioritas oleh Trakindo bila alat berat yang dipesan telah tersedia di Indonesia.

"Ternyata benar. Saya dikontak oleh Trakindo untuk membeli tiga alat berat. Saya ditanya, kapan bisa bayar. Saya bilang ke mereka, selama bank buka, saya bisa melunasi pesanan alat berat tersebut," papar David.

Pasca pesanannya dikirim, David didatangi banyak orang agar menjual alat beratnya. Tetapi, ia menolak. Selang dua hari ada orang datang untuk meminjam alat beratnya selama dua bulan. Kliennya ini membayar uang muka Rp1,2 miliar untuk meminjam alat beratnya. Dari uang muka ini, David kembali order alat berat baru.


Strategi Bisnis

Pada Januari 2008, lelaki lulusan Universitas Lambung Mangkurat ini kembali memperoleh alat berat baru. Alat berat ini ia dapatkan dari Trakindo karena orang yang melakukan order tidak siap membayar. David pun berhasil memiliki 10 unit alat berat.

"Karena indennya lama. Maka ada yang saja masalah, antara lain orang yang pesan tidak siap bayar, atau KP-nya sudah berhenti produksi. Ini yang saya manfaatkan untuk dapat alat berat," ungkapnya.

Dari 10 alat berat tersebut, David meraup keuntungan yang menjanjikan. Bahkan, ia mengaku bisa membeli alat berat baru dengan uang sewa yang diberikan. Padahal, uang sewa itu telah digunakan David untuk membayar angsuran dan bunga kepada bank.

Dengan begitu, David lebih banyak membeli alat berat dengan uang tunai. Banyak fasilitas perbankan yang tidak digunakan olehnya. Hingga kini, alat berat yang dimiliki David telah mencapai ratusan unit.

Kesuksesan tak indah rupanya jika tidak menemui hambatan. Kinerja perusahaan David mulai dihadang oleh turunnya harga batubara. Turunnya harga batubara membuat beberapa jumlah alat beratnya kini tak beroperasi. Namun, David tak pernah putus asa.     

Ia memiliki strategi dalam memasarkan alat beratnya. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh perusahaan lain, khususnya mereka yang memiliki alat berat minim. Selain itu, David juga menilai strategi ini akan sulit dilakukan perusahaan besar.

"Kalau ada yang menyewa tiga, saya akan kasih empat. Kalau menyewa 12, saya kasih cadangan empat unit. Alat berat cadangan ini boleh digunakan, boleh tidak. Mereka bayar kalau alat cadangan ini digunakan," paparnya. Hal inilah yang membuat alat berat David masih digemari berbagai perusahaan.

Bagaimana kisah David sebelum memulai usaha alat berat ini? Baca kisahnya di artikel selanjutnya.

Sumber: Website BCA Prioritas


(ROS)