Gapensi: Dampak Pembangunan Terasa Selama Lebaran 2017

   •    Minggu, 02 Jul 2017 14:08 WIB
pembangunan
Gapensi: Dampak Pembangunan Terasa Selama Lebaran 2017
Ilustrasi. MI/Galih Pradipta.

Metrotvnews.com, Jakarta: Asosiasi Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi) menyatakan dampak pembangunan infrastruktur secara besar-besaran mulai terasa selama Lebaran 2017.

Sekjen Gapensi Andi Rukman Karumpa, menyebutkan, hal tersebut terlihat antara lain dari semakin lancarnya transportasi mudik dan stabilitas harga barang menjelang masa Idulfitri.

"Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya terjadi insiden dan kemacetan luar biasa, kali ini transportasi dan perhubungan lancar. Harga-harga barang juga stabil untuk kebutuhan pokok," kata Andi dikutip dari Antara, Minggu 2 Juli 2017.

Menurut dia, kelancaran dan stabilitas harga tersebut merupakan dampak dari pembangunan infrastruktur secara besar-besaran selama ini. Sekjen Gapensi juga mengingatkan membangun infrastruktur secara massif sebuah keniscayaan.

baca : Meredam Inflasi

Selama periode 2015 hingga 2019, pemerintah menargetkan pembangunan 15 bandara baru, 24 pelabuhan, 2.650 km jalan nasional, 1.000 km jalan tol, 3.258 km jalur kereta api, dan 60 pelabuhan penyeberangan dengan kebutuhan dana mencapai Rp5.519 triliun.

"Kencangnya pembangunan infrastruktur tersebut membuat Gapensi optimistis sektor konstruksi akan kembali masuk dalam tiga besar penyumbang Produk Domestik Bruto nasional tahun ini. Meski, pada kuartal I-2017 sektor ini hanya di posisi keenam penyumbang PDB," ujar Andi.

Logistik

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menginginkan sektor logistik benar-benar dibenahi guna mengantisipasi peningkatan perdagangan global, di mana pertumbuhan majemuk tahunan perdagangan Indonesia adalah tertinggi di ASEAN.

Pertumbuhan CAGR (Compound Annual Growth Rate/Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan) pada interval 2013-2017 sebesar 11,7 persen. Sementara volatilitas freight forwarding (agen pengiriman/penerimaan ekspor-impor) mencapai 11,8 persen.

"Kemudian, pengiriman kecil dan ekspres mencapai 21,7 persen. Hal ini menjadikan volatilitas Indonesia tertinggi se-ASEAN," kata Ketum DPP ALFI Yukki Nugrawan Hanafi.

Dia mengingatkan Indonesia mulai memasuki era pasar global di mana hambatan perdagangan menurun, dan tingkat persaingan meningkat. Secara garis besar, market size logistik nasional cenderung mengalami volatilitas atau peningkatan.

Menurut Yukki, kondisi demikian merupakan pengaruh tingginya permintaan pasar di Indonesia seiring menjamurnya bisnis e-commerce atau perdagangan barang dan jasa secara online.

 


(SAW)