Kisah di Balik Perjalanan ke Puncak Jaya

Annisa ayu artanti    •    Rabu, 23 Aug 2017 17:10 WIB
bumnpapua
Kisah di Balik Perjalanan ke Puncak Jaya
Menteri BUMN Rini Soemarno saat ke Papua. MTVN/Annisa.

Metrotvnews.com, Puncak Jaya: Negeriku kaya raya. Ungkapan itu benar adanya merefleksikan beraneka ragam suku, bahasa, agama, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Mulai dari Sabang sampai Merauke serta Nias sampai Pulau Rote. Tetapi bagaimana keadaan sesungguhnya?

Kali ini tim Metrotvnews.com berkesempatan untuk menginjakkan kaki di bumi Cendrawasih, Papua bersama rombongan tim Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk Menteri BUMN Rini Soemarno. Pada Selasa 22 Agustus 2017 kami menginjakkan kaki di Bandar Udara Jayapura. Kami pun disuguhkan dengan pemandangan perbukitan, udara yang sejuk, serta keramahan orang Papua.

Setelah beristirahat sebentar di Jayapura, kami langsung bertolak ke kabupaten tertinggi di Papua yakni Puncak Jaya dengan menaiki pesawat DHC-6 TWIN OTTER milik PT Spirit Avia Sentosa (SAS). Perjalanan dari Jayapura ke Kabupaten Puncak Jaya memakan waktu sekitar satu jam.

Seperti di Jayapura pagi hari, udara di Kabupaten Puncak Jaya pun sejuk, karena dikelilingi oleh pegunungan dan berada diketinggian 2.000 kaki di atas permukaan laut. Hal itu menjadi kenikmatan tersendiri di Papua. Di Puncak Jaya, sejumlah kegiatan dilakukan Rini mulai dari peresmian program penurunan harga semen hingga peninjauan gudang dan hasil renovasi PT POS.

Kemudian, untuk melihat kondisi masyarakat di sana, sesekali Rini menyempatkan berbincang dengan masyarakat. Ternyata, kondisi masyarakat disana benar-benar memprihatinkan dan seperti yang banyak diketahui bahwa peradaban di Papua belum semaju di Pulau Jawa. Hal itu terlihat dari kegiatan masyarakat di sana. Tidak sedikit orang asli Papua yang tinggal di Puncak Jaya tidak bisa membaca dan berhitung.


Pesawat DHC-6 TWIN OTTER 

Contohnya, ketika Rini membeli sayuran yang dijajakan mama-mama, sapaan ibu-ibu di sana, mereka tidak mengerti apa itu uang dan kembalian. Bahkan mereka tidak mengerti ketika Rini mengatakan bahwa uang kembaliannya untuk mereka.
 
"Kembaliannya dipegang saja. Untuk hadiah," kata Rini.

Entah apa yang ada dipikiran si mama. Hanya terlihat wajah bingung ketika memegang uang Rp100.000 dari Rini Soemarno.

Berdasarkan cerita dari Ketua Dewan Pengurus Pokja Papua, Judith J. dipoditro, beberapa dari mama-mama di pasar itu masih mengenal sistem barter. Jadi, mereka pun tidak mengetahui sistem berjualan pada umumnya.

"Kadang mama-mama itu, setelah jualan. Uang yang didapat habis saja. Tidak ada yang di-save," ungkap Judith.

Rini pun menambahkan, dalam menjajakan dagangannya, si mama terlihat sama sekali tidak mengerti uang. Uang yang mereka ketahui hanya pecahan Rp50.000 dan Rp10.000.

"Iya. Masa beli nanas tiga buah Rp10.000. Jahe dua batang Rp10.000. Ini kan miris. Uang recehan jarang. Uang Rp100.000 mereka tidak mengerti. Mereka tidak pernah lihat. Tidak ada uang Rp5.000 dan Rp2.000. Yang ada Rp50.000 dan Rp10.000," cerita Rini.

Padahal, Rini melanjutkan, Kabupaten Puncak Jaya pernah menjadi salah satu kabupaten yang kaya akan hasil kebunnya seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan kopi. Hasil kebun mereka biasanya mereka jual ke PT Freeport Indonesia. Tetapi, pascareformasi semua berubah. Banyak dari mereka tidak bisa membaca, berhitung, dan bercocok tanam. Itu yang membuatnya miris.

Rini berencana bersama BUMN untuk menggerakan kembali perekonomian dan pendidikan di Puncak Jaya. Ia akan membuatkan sekolah vokasional. Sekolah vokasi bertujuan agar anak-anak mendapatkan pembelajaran yang bisa langsung dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari di Puncak Jaya, seperti bercocok tanam.

"Ingin membuat sekolah pelatihan untuk pertanian. Membantu mengenainl proses kopi dan nanas olahan yang dikalengkan. Nantinya? kita yang akan ambil buah merah. Ini akan dihubungkan ke Kimia Farma kalau sudah izin ke badan pom. Bagaimana menghidupkan ekonomi disana," tutur Rini.

Selain segi pendidikan dan ekonomi, Rini menambahkan, saat ini Kabupaten Puncak Jaya sedang rawan konflik. Mulai dari konflik antarpemilihan bupati sampai OPM Papua Merdeka dengan TNI atau Polri. Beberapa kali ada baku tembak disana. Bahkan berdasarkan informasi yang beredar, beberapa hari lalu ada pembunuhan di sana.

"Maka tidak aneh, lihat kan, ketika disana pengawalan sangat ketat. Banyak yang berjaga-jaga," pungkas Rini.


(SAW)