Akademisi Minta Pemerintah Konsisten Berlakukan HET Beras

Husen Miftahudin    •    Sabtu, 09 Sep 2017 15:12 WIB
beras
Akademisi Minta Pemerintah Konsisten Berlakukan HET Beras
Guru Besar Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin. Foto: Metrotvnews.com/Husen

Metrotvnews.com, Jakarta: Guru Besar Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin menjabarkan kekhawatiran pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk komoditas beras. Dia membeberkan, bila HET ditetapkan, laju inflasi dikhawatirkan tak terkendali.

Kondisi tersebut bakal membuat target inflasi hingga akhir tahun ini sebesar 4±1 persen meleset.

"Jadi, pemerintah mampu mengendalikan inflasi di bawah 4 persen. Kemarin, Lebaran dan puasa stabil, jadi itu yang dijaga terus. Jangan sampai beras melonjak lagi," ujar Bustanul dalam diskusi di Gado Gado Boplo, Jakarta Pusat, Sabtu 9 September 2017.

Pada periode Januari-Agustus 2017, inflasi kalender mencapai sebesar 2,53 persen. Sementara pada Agustus 2017, indeks harga konsumen (IHK) mengalami deflasi sebesar 0,07 persen.

Bustanul yang juga ekonom senior Institute for Development of Economies and Finance (INDEF) melanjutkan bahwa pemerintah juga khawatir bila harga beras tidak terkendali, maka angka kemiskinan akan melonjak. Pasalnya, kenaikan harga beras menyumbang rerata 23 persen dari angka kemiskinan Indonesia.

Maka itu, Bustanul berharap pemerintah konsisten menerapkan HET. Pemerintah harus konsen dalam mengawasi penerapan kebijakan tersebut.

"Beras ini kontributor terbesar terhadap kemiskinan, average 23 persen, di desa 26 persen. Naik sedikit, harga beras orang miskin bertambah. Seperti pengumuman kemiskinan Agustus kemarin, ternyata orang miskin naik 6.900," tutup Bustanul.

Beleid HET diberlakukan lewat Permendag Nomor 47 Tahun 2017. Sayangnya, aturan itu dimakzulkan lantaran terjadi polemik di masyarakat dan pedagang.

HET kembali diberlakukan dengan landasan Permendag Nomor 27 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen. Harga acuan beras medium yakni Rp9.500 per kilogram (kg).


(UWA)