Kebijakan Bea Masuk Bisa jadi Solusi Defisit Tembakau

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 09 Aug 2017 17:19 WIB
tembakaucukai tembakau
Kebijakan Bea Masuk Bisa jadi Solusi Defisit Tembakau
Ilustrasi petani tembakau. (FOTO: ANTARA/ANIS)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia dinilai masih mengalami defisit tembakau, baik secara kualitas, kuantitas, dan varietas. Akibatnya, impor 'emas hijau' masih dibutuhkan oleh industri, terutama varietas yang tidak dapat dibudidayakan di dalam negeri, seperti tembakau Virginia dan Oriental.

Maka dari itu, wacana pembatasan impor di tengah defisit tembakau dinilai tidak tepat dan mengancam keberlangsungan industri hasil tembakau.

Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) Muhaimin Moeftie menyatakan, alih-alih pembatasan impor tembakau, pemerintah sebenarnya dapat menetapkan kebijakan bea masuk yang sedikit lebih tinggi terhadap varietas yang tidak dapat dibudidayakan ataupun varietas yang jumlahnya belum mencukupi kebutuhan industri. "Bea masuk bisa menjadi solusi," ujar Moeftie dalam keterangannya yang diterima media, Rabu 9 Agustus 2017.

Terkait besarannya, Moefti meminta angkanya harus wajar. Dengan adanya kebijakan ini, industri masih tetap memiliki akses terhadap bahan baku. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata produksi tembakau di dalam negeri selalu di bawah 200 ribu ton per tahun. Sementara, permintaan tembakau berkisar 320 ribu ton per tahun.

Lebih lanjut Moefti, pemerintah perlu mendorong percepatan program kemitraan antara pabrikan dan petani tembakau. Program kemitraan termasuk proses pendampingan saat penanaman hingga panen. "Ini salah satu solusi untuk mencapai produksi yang dibutuhkan, baik secara kualitas maupun kuantitas," jelas dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV Firman Subagyo mengatakan, pemerintah dapat mengenakan kebijakan tarif progresif terhadap varietas tembakau yang tidak dapat dipenuhi oleh petani lokal. "Dengan adanya tarif progresif, maka yang diuntungkan tentu pemerintah," ujar Firman.

Firman juga mengimbau, agar pabrikan terus melakukan pembinaan dan kemitraan terhadap petani untuk membudidayakan varietas-varietas tembakau yang dibutuhkan. Sehingga, tembakau dalam negeri yang terserap menjadi lebih banyak.


(AHL)