Pengamat: Petambak Garam Perlu Melek Teknologi

   •    Kamis, 12 Oct 2017 12:05 WIB
garam
Pengamat: Petambak Garam Perlu Melek Teknologi
Pekerja memanen garam di tambak garam (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

Metrotvnews.com, Kupang: Pengamat Ekonomi James Adam mengatakan petambak garam perlu melek dan bisa melakukan alih teknologi tepat guna. Hal itu penting untuk mampu bersaing dan meningkatkan kualitas produksi di pasaran dan dengan demikian dapat meningkatkan pendapatan.

"Melek teknologi terkait dengan proses produksi garam ini penting karena pembuatan garam itu melalui proses mengubah air laut menjadi kristal-kristal garam seperti halnya dalam proses industri," katanya, di Kupang, seperti dikutip dari Antara, Kamis 12 Oktober 2017.

Anggota International Fund for Agricultural Development (IFAD) untuk program pemberdayaan masyarakat pesisir NTT mengatakan hal itu terkait Nusa Tenggara Timur memiliki potensi tambak garam dengan luas lahan yang dapat dikembangkan sekitar 12.835 hektare dengan tingkat produksi 1,43 juta ton per tahun.

Potensi ini, kata dia, jika dikembangkan dengan maksimal maka satu hektare dapat menghasilkan 112 ton garam. "Apabila digandakan hasil itu dalam satu tahun maka pendapatan pegaram tentunya menggembirakan untuk meningkatkan kesejahteraan," tuturnya.

Menurut dia, untuk memaksimalkan potensi itu maka salah satu syarat yang harus dimiliki petambak garam adalah pengetahuan tentang teknologi dan sanggup pula melakukan alih teknologi itu dalam proses produksi.

"Teknologi yang diterapkan itu harus dikawal mulai dari lahan garam, sistem panen, manajemen, hingga akhir panen," ujarnya.

Hal ini dimaksudkan agar petani garam dapat peningkatan kualitas sekaligus produktivitasnya untuk produk yang berkualitas. Ia mengatakan teknologi yang diterapkan itu harus dikawal mulai dari lahan garam, sistem panen, manajemen, hingga akhir panen.

"Untuk itu, Kementerian Perindustrian yang memiliki inovasi teknologi untuk membuat garam beryodium di lahan pergaraman dan garam industri harus mentranfer ilmu itu kepada para petani garam dengan berbagai kegiatan dan pelatihan," tukasnya.

Kepala Dinas Perindustrian Nusa Tenggara Timur Obaldus Toda, sebelumnya mengatakan berbagai cara tengah ditempuh untuk mendorong warga setempat dari kabupaten yang memiliki potensi garam untuk mengembangkan industri garam rakyat dengan teknologi geomembran.

"Kami melatih kelompok masyarakat di sembilan kabupaten untuk mengolah garam mentah menjadi garam beryodium, minimal untuk kebutuhan sehari-hari," tutupnya.


(ABD)