Kuartal II-2018

Ekonomi DKI Jakarta Tumbuh Melambat 5,93%

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 07 Aug 2018 10:35 WIB
pertumbuhan ekonomibank indonesiaekonomi indonesia
Ekonomi DKI Jakarta Tumbuh Melambat 5,93%
Ilustrasi (MI/USMAN ISKANDAR)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Provinsi DKI Jakarta menyebutkan perekonomian DKI Jakarta pada kuartal II-2018 melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya, dan lebih rendah dari prakiraan. Perlambatan terutama disebabkan oleh pelemahan kinerja Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan ekspor.

Pertumbuhan ekonomi Jakarta pada kuartal II turun menjadi 5,93 persen (yoy) dari 5,99 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya. Lebih lanjut, pertumbuhan sepanjang semester I-2018 tercatat sebesar 5,96 persen juga lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 6,28 persen.

"Melambatnya kinerja PMTB terutama disebabkan oleh perlambatan pada investasi bangunan sejalan dengan pembangunan infrastruktur ibu kota yang berkurang," kata Kepala BI KPw Provinsi DKI Jakarta Trisno Nugroho, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa, 7 Agustus 2018.

Dirinya menambahkan pembangunan infrastruktur rata-rata telah mencapai progress 90 persen, sehingga berdampak pada relatif rendahnya aktivitas belanja modal. Hal tersebut juga berdampak pada berkurangnya impor barang modal, sehingga menyebabkan kinerja impor pada kuartal II melambat.

Lebih lanjut, berkurangnya kinerja ekspor dipengaruhi oleh melambatnya ekspor jasa yang mendominasi komponen tersebut. Melambatnya ekspor jasa ini disebabkan karena berkurangnya jumlah tamu hotel mancanegara pada kuartal II, yang umumnya datang untuk urusan bisnis karena bulan puasa yang jatuh pada kuartal II.

Di sisi lain, kemampuan konsumsi rumah tangga di DKI Jakarta pada kuartal II-2018 menguat dan mencatat pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal itu tidak terlepas dari momen bulan puasa dan hari raya Idulfitri yang mendorong belanja masyarakat lebih tinggi.



"Selain itu, pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) juga menjadi faktor pemacu belanja. THR yang juga dinikmati oleh PNS mendorong belanja pegawai pada keuangan pemerintah. Hal ini kemudian mendongkrak pertumbuhan konsumsi pemerintah," jelas dia.

Pada kuartal II, konsumsi pemerintah kembali tumbuh positif setelah mengalami kontraksi pada kuartal sebelumnya. Konsumsi Lembaga Non Publik yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) juga mengalami akselerasi pertumbuhan, sejalan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada Juni.

Kinerja perekonomian dari sisi pengeluaran tersebut juga tercermin pada kinerja perekonomian dari sisi Lapangan Usaha (LU). Menguatnya konsumsi rumah tangga turut mendorong pertumbuhan LU Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang lebih baik dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Namun, melambatnya investasi bangunan karena aktivitas pembangunan pada kuartal II yang cenderung lebih rendah, menyebabkan LU Konstruksi tumbuh lebih rendah. Aktivitas kontruksi yang melambat tersebut juga menahan pertumbuhan LU Industri Pengolahan sehingga tidak dapat tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

 


(ABD)