Dorong Industrialisasi Masa Depan via Edukasi Pola Keilmuan Teknologi

Husen Miftahudin    •    Kamis, 24 Mar 2016 13:12 WIB
komite ekonomi nasional
Dorong Industrialisasi Masa Depan via Edukasi Pola Keilmuan Teknologi
Ahli ekonomi senior Emil Salim. (FOTO: MTVN/Husen Miftahudin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) tengah menyusun roadmap industrialisasi Indonesia untuk periode 2016-2045. Demi penyusunan industrialisasi masa depan yang matang, KEIN menggelar diskusi strategi Industrialisasi Ekonomi ASEAN.

Ahli ekonomi senior Emil Salim memberi saran pada KEIN agar menyerap bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini. Tingginya populasi generasi Y atau milenia yang telah mengenal dan menerapkan sistem informasi, teknologi, dan digital dalam keseharian harus diberi edukasi agar kualitasnya semakin membaik.

Menurut mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto ini, kualitas sumber daya manusia Indonesia bisa ditingkatkan melalui edukasi science, technology, engineering, dan math (STEM). Pola edukasi ini dinilai mampu meningkatkan kualitas SDM di tengah persaingan global.

"Dengan meningkatkan kualitas generasi muda kita, dapat dipastikan daya saing bangsa kita meningkat. Pembangunan intra industri mampu mendorong produktivitas manufaktur, mikro dan kecil, serta industri kreatif di persaingan ASEAN maupun global," ujar Emil di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (24/3/2016).

Dia melanjutkan, produk-produk sumber daya alam unggulan masih menjadi sasaran Industri Mikro Kecil Menengah (IMKM). Namun begitu, butuh pendekatan secara klaster atau pengelompokan bagi IMKM di daerah-daerah tertentu agar terkonsentrasi.

Di sisi lain, kata Emil, roadmap industrialisasi Indonesia pada 2016-2015 adalah industri manufaktur yang harus berorientasi pada pengembangan intra industri ASEAN. Orientasi perdagangan regional ini perlu dimanfaatkan untuk pengembangan perdagangan industri dalam negeri.

"Bagi kita, perdagangan intra industri perlu dikembangkan sebagai yang utama. Ini memungkinkan kita untuk masuk ke Asia sebagai pemanfatan kita meski di dalam negeri sendiri masih kurang," pungkas Emil.


(AHL)