Ekspor Industri Makanan Digenjot

   •    Selasa, 11 Jul 2017 11:37 WIB
industri makanan
Ekspor Industri Makanan Digenjot
Ilustrasi industri makanan. (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprediksi pertumbuhan industri makanan dan minuman pada semester II-2017 bakal merosot.

Hal itu disebabkan momen Ramadan dan Lebaran yang biasanya meningkatkan permintaan jatuh pada semester I tahun ini. Guna mengantisipasi turunnya permintaan di dalam negeri, Kemenperin meminta industri itu fokus untuk menggenjot nilai ekspor.

"Kita dorong ekspor, saya lihat porsi ekspor di beberapa perusahaan sudah semakin  meningkat," kata Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, di Jakarta, Senin 10 Juli 2017.

Berdasarkan data Kemenperin, pada semester I pertumbuhan triwulan I naik 8,6 persen. Hal itu belum dihitung masa Lebaran. Dengan demikian, di triwulan II dipastikan akan lebih tinggi dari jumlah itu.

Menurut Panggah, beberapa industri akan melakukan ekspansi usaha sepanjang 2017, seperti Mayora, Garuda Food, dan Coca-Cola. Namun, dampaknya baru akan terasa pada 2018.

Dengan kondisi demikian, Panggah menyampaikan bahwa pertumbuhan industri makanan dan minuman hingga akhir 2017 diprediksi mencapai 7 persen.




"Kesempatan mengejar pertumbuhan di Natal. Pertumbuhan antara 7 persen dan 8 persen karena Lebaran sudah di semester I," pungkas dia.

Sektor industri makanan dan minuman menjadi motor pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada 2017 yang ditargetkan tumbuh 5,3-5,6 persen, lebih tinggi daripada proyeksi pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,1-5,4 persen.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah optimistis kondisi perekonomian nasional akan lebih stabil dan membaik sehingga menumbuhkan iklim investasi yang kondusif bagi sektor industri.

Airlangga menyampaikan sektor makanan dan minuman diproyeksikan tumbuh 7,5-7,8 persen pada 2017, lebih rendah ketimbang di 2016 yang angkanya mencapai 8,2-8,5 persen dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian yang ada.

Realisasi baja

Airlangga juga menceritakan hasil kunjungan kerjanya ke pabrik baja Posco di Korea Selatan. Hal itu terkait dengan program 10 juta ton baja, sejalan dengan pengembangan peta jalan industri baja nasional.

Menurut dia, Posco bersama PT Krakatau Steel berkomitmen untuk mendukung pembangunan cluster 10 juta ton baja di kawasan Cilegon, Banten. Dari hasil kunjungannya, Airlangga yakin cluster itu bisa terwujud.

"Kita bahas bagaimana yang 10 juta ton bisa direalisasikan lebih cepat."

Saat di 'Negeri Ginseng', rombongan Kemenperin juga membahas pendalaman struktur otomotif dengan PT Nippon Steel untuk controlling meel di Jepang. PT Krakatau Steel bersama Nippon Steel dan Sumitomo Metal Corporation telah menggagas perusahaan joint venture yaitu PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) sejak lima tahun lalu.

"Pabrik KNSS akan memproduksi baja lembaran untuk industri otomotif dengan kapasitas mencapai 500 ribu ton per tahun," ungkap Airlangga. (Media Indonesia)

 


(AHL)