DPK Perbankan Tumbuh di Tengah Melambatnya Kredit

   •    Jumat, 11 Aug 2017 11:13 WIB
perbankan
DPK Perbankan Tumbuh di Tengah Melambatnya Kredit
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dana pihak ketiga (DPK) perbankan pada Mei 2017 tumbuh sebesar 11,18 persen lebih tinggi daripada pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 9,87 persen.

Menurut Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pertumbuhan DPK pada Mei 2017 masih sesuai dengan pola musiman di periode sebelumnya, tetapi dengan besaran yang lebih tinggi.

Namun, pertumbuhan kredit pada periode yang sama melambat dari 9,47 persen menjadi 8,71 persen. Dengan perkembangan ini, rasio kredit terhadap simpanan (LDR) pada Mei 2017 mencapai 88,28 persen, turun dari 89,14 persen pada April.

Direktur Grup Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS Doddy Ariefianto mengatakan, pertumbuhan kredit yang kembali melambat di Mei lalu mengindikasikan pelaku pasar masih bersikap hati-hati dalam melakukan ekspansi di tengah kekhawatiran atas potensi risiko kredit bermasalah.

"DPK perbankan masih tetap tumbuh di kala pertumbuhan kredit yang menurun," sebut Doddy via rilis, Kamis 10 Agustus 2017.

Baca: BI Ungkap 2 Faktor Penghambat Pertumbuhan Kredit ke Depan

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana melihat jumlah dana pihak ketiga yang meningkat justru baik untuk membantu perbankan menyalurkan kredit.

"Kalau uang terkumpul di bank, ya, akan dipakai untuk pembangunan juga. Kalau disalurkan ke kredit, artinya mendukung pertumbuhan ekonomi," ujarnya saat dihubungi.

Menurut Heru, masih terlalu dini menilai permintaan kredit rendah saat tabungan meningkat. Hal itu disebabkan penyaluran kredit baru kencang menjelang akhir tahun.

"Pengalaman seperti itu. Tidak bisa dikatakan bahwa kredit tidak tumbuh. Kita lihat tiga bulan lagi seperti apa perkembangannya. Pertumbuhan kredit akan terlihat pada September. Jangan terlalu cepat di-punished kredit ini tidak tumbuh," tekan Heru.

Pembina Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas) Aviliani mengatakan mayoritas kelas menengah belum berkonsumsi dan banyak menabung. (Media Indonesia)

 


(AHL)