BPTJ Integrasikan Kartu Commuterline dengan Transjabodetabek

Nia Deviyana    •    Senin, 31 Dec 2018 19:56 WIB
transjakartakrl
BPTJ Integrasikan Kartu Commuterline dengan Transjabodetabek
Kepala BPTJ Bambang Prihartono. Medcom/Nia.

Jakarta: Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) melakukan pre-launching integrasi kartu pembayaran elektronik transportasi antara PT Commuter Indonesia (KCI) dengan Perum PPD (Perusahaan Umum Pengangkutan Penumpang Djakarta). Dengan demikian masyarakat hanya butuh satu kartu saja untuk naik commuterline dan bus Transjabodetabek.

"Ini menjadi komitmen pemerintah untuk serius menerapkan sistem ticketing secara terintegrasi," kata Kepala BPTJ Bambang Prihartono di Stasiun Sudirman, Jakarta, Senin, 31 Desember 2018.

Kartu yang diterapkan adalah kartu multitrip (KMT) dan kartu elektronik yang dikeluarkan bank seperti e-money, TapCash, Brizzi, dan Flazz. "Saat ini BI masih mengaudit semua penyelenggara angkutan massal agar bisa diterapkan secara keseluruhan," tambah dia. 

Namun, untuk kartu elektronik yang dikeluarkan bank, saat ini sudah bisa digunakan untuk naik commuterline maupun Transjabodetabek. Tetapi untuk KMT kemungkinan baru akan terealisasi pada triwulan satu 2019. Bambang mengatakan kartu-kartu ini nantinya juga akan diintegrasikan dengan MRT dan LRT. 

"Ini awalnya antara PT KCI dengan PPD dulu, ke depannya mau naik apa saja, LRT, MRT, atau bus antar kota kita integrasikan juga dengan satu kartu," papar dia.

Sistem integrasi antarmoda memang telah digaungkan sejak lama untuk memudahkan masyarakat menggunakan berbagai angkutan umum melalui satu kartu.

Sebelumnya, Bambang pernah mengungkapkan mekanisme pengintegrasian sebagai cara untuk mengurai kemacetan yang masih menjadi permasalahan Ibu Kota karena sebagian besar pekerja berasal dari Depok, Tangerang, dan Bekasi. 

BPTJ mencatat sedikitnya 571 kendaraan keluar masuk dari Bekasi ke Jakarta dalam sehari. Kondisi ini tentu saja membuat lalu lintas di Jakarta bertambah padat. Kebijakan ganjil-genap, menurut Bambang tak bisa diimplementasikan terus menerus karena bisa memicu masyarakat untuk memiliki mobil lebih dari satu dengan plat berbeda. 

"Kalau diberlakukan terus orang pada akhirnya bicara beli mobil kedua atau naik motor. Makanya saya kampanyekan terus kalau naik motor itu keselamatannya rendah," kata Bambang, belum lama ini.



(SAW)


PPN Avtur Indonesia Sudah Kompetitif

PPN Avtur Indonesia Sudah Kompetitif

2 days Ago

Perlakuan pengenaan pajak pendapatan nilai (PPN) untuk avtur bagi penerbangan domestik di Indon…

BERITA LAINNYA