Sasar Warga Kelas Bawah, Telkom Luncurkan International Remittance

Husen Miftahudin    •    Minggu, 11 May 2014 16:09 WIB
pengiriman uang
Sasar Warga Kelas Bawah, Telkom Luncurkan International Remittance
Peluncuran Delima (Delivery Money Access) Cash to Cash/Husen Miftahudin.

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) memasuki bisnis jasa pengiriman uang secara internasional (international remittance) tanpa lewat bank. Telkom menggandeng PT Pegadaian. Kedua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berkolaborasi untuk memberikan kemudahan dalam pengiriman uang secara tunai yang bakal bisa menyentuh masyarakat ekonomi kelas bawah.

"Program ini diberi nama Delima (Delivery Money Access) Cash to Cash, yakni platform untuk layanan transaksi keuangan yang sifatnya payment point, remittance, serta e-money. Kami menggandeng Pegadaian karena PT Pegadaian setiap harinya melakukan transaksi keuangan," kata Direktur Enterprise dan Business Service Telkom, Muhammad Awaluddin, setelah acara Gebyar Layanan Delima Remittance Cash to Cash di Kantor Pegadaian CPP Kebon Nanas, Jalan D.I. Panjaitan, Jakarta Timur, Minggu (11/5/2014).

Awaluddin menjelaskan, di Indonesia outlet pegadaian mencapai 4.500 yang tersebar di setiap kabupaten, kecamatan, bahkan komunitas-komunitas. Ini bisa dapat memudahkan layanan international remittance untuk menjangkau masyarakat ekonomi kelas bawah. "Kalau disinergikan dan dikolaborasikan, kekuatan Delima Remittance akan sangat besar," ujar Awaluddin.

Saat ini transaksi melalui jasa keuangan dengan bank harus memiliki rekening. Sedangkan masyarakat kelas menengah ke bawah tidak pede untuk membuka rekening karena penghasilan mereka yang kecil. "Kita bertransaksi melalui elektronik dengan notifikasi SMS. Notifikasi tersebut yang nanti dibawa ke pegadaian untuk mencairkan uang yang telah dikirim dari luar," jelasnya.

Awaluddin yakin, hal ini akan mendorong terjadi financial inclusion (pengiriman melalui layanan perbankan) pada masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah.

"Jumlah masyarakat yang memiliki rekening perbankan sangat sedikit. Rekening perbankan di Indonesia hanya berjumlah 100 juta dari jumlah penduduk 240 juta jiwa. Dengan ini kita bisa membantu pemerintah dalam meningkatkan finansial inklusi tersebut," papar Awaluddin.


(DOR)