Dua Hal Penyebab Daya Beli Masyarakat Masih Tinggi

Dian Ihsan Siregar    •    Sabtu, 12 Aug 2017 21:17 WIB
daya beli masyarakat
Dua Hal Penyebab Daya Beli Masyarakat Masih Tinggi
Ekonom Faisal Basri. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

Metrotvnews.com, Jakarta: ‎Ekonom Faisal Basri menyatakan ada dua hal yang mencerminkan daya beli masyarakat Indonesia masih tinggi. Sehingga, dia tidak setuju apabila daya beli disebut turun, meski memang ekonomi nasional masih hanya tumbuh sebesar 5,01 persen di kuartal II-2017.

Menurutnya, kedua hal itu adalah ‎‎total pendapatan yang naik dan tarif pajak yang tidak ada kenaikan.‎ Pada saat pendapatan naik, ini karena konsumsi rumah tangga tidak tinggi. Pasalnya, saat ini banyak masyarakat yang mulai gemar menabung.

"Pak Kecuk (Kepala BPS) menunjukkan, jika proporsi tabungan terhadap total pendapatan naik. Jadi masyarakat yang menabung lebih banyak dengan korbankan konsumsi, jadi belanjanya kurang, tidak berarti daya beli turun," tutur Faisal, ‎ditemui dalam acara Forum Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu 12 Agustus 2017.

‎Namun, bila pemerintah jadi menurunkan tingkat batas pendapatan tidak kena pajak (PTKP), maka akan baru terasa bagi daya beli. "Jadi daya beli itu yang tercermin dari konsumsi, tidak ada gangguan dari mana-mana, tidak ada gangguan dari berbagai arah," jelas Faisal.

Tak hanya itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan jumlah wisatawan mancanegara ‎(wisman) ke Indonesia yang naik 22,4 persen, hal itu memperlihatkan daya beli masih tinggi.

"Tidak terjadi penurunan daya beli masyarakat, ritel itu tidak turun, tapi tumbuhnya lambat, kalau omzet turun dia teriaknya kencang, tapai kalau bagus, tidak teriak, karena nanti orang pajak datang," tutup Faisal.

 


(AHL)