Harga Anjlok, BI Ingatkan Bahaya Investasi di Bitcoin

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 09 Feb 2018 11:15 WIB
bitcoinbank indonesiacryptocurrency
Harga Anjlok, BI Ingatkan Bahaya Investasi di Bitcoin
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) kembali mengingatkan bahaya investasi di cryptocurrency seperti bitcoin. Saat ini harga bitcoin terus mengalami penurunan akibat aksi jual dari pemegang salah satu cryptocurrency yang memiliki market capital paling besar tersebut.

"Kita terus komunikasi dan edukasi (soal bahaya investasi bitcoin)," kata Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Onny Widjanarko kepada medcom.id di Jakarta, Jumat, 9 Februari 2018.

Dilansir dari Coin Desk, harga bitcoin hari ini terus mengalami fluktuasi yang cukup tajam dibandingkan beberapa hari lalu. Harga bitcoin dibuka di USD8.237.34 dan sempat mengalami penurunan hingga ke level USD7.808.22 atau anjlok sekitar tiga persen.

Onny menambahkan, banyak negara dan lembaga keuangan internasional yang telah melarang bitcoin dan sejenisnya. Untuk itu, BI selaku otoritas di sistem moneter dan sistem pembayaran terus mengingatkan bahaya menggunakan cryptocurrency baik untuk transaksi maupun investasi.

"Karena berbagai respons negara-negara di dunia juga sudah mulai konvergen tentang cryptocurrency. Contoh Chief World Bank sebut ponzi scheme (modus investasi palsu). Fed sebut governance dan risk critical. Tiga bank besar Amerika BOA, Citicorp, JPmorgan melarang transaksi cryptocurrency melalui kartu kredit," jelas dia.

Bank sentral di dunia mengaku akan terus memantau perkembangan dari sikap berbagai negara terhadap bitcoin. Di sisi lain, BI akan terus mengingatkan kepada masyarakat soal bahaya bitcoin melalui edukasi dan sosialisasi di berbagai media.

Sebelumnya diwartakan BI berulang kali memperingatkan seluruh pihak agar tidak menjual, membeli atau memperdagangkan virtual currency?????. BI menegaskan bahwa virtual currency tidak diakui sebagai alat pembayaran yang sah, sehingga dilarang digunakan sebagai alat pembayaran di Indonesia.

"Pemilikan virtual currency sangat berisiko dan sarat akan spekulasi karena tidak ada otoritas yang bertanggung jawab, tidak terdapat administrator resmi, tidak terdapat underlying asset yang mendasari harga virtual currency," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman.

 


(AHL)