Dukung Pertumbuhan Ekonomi via Smart City

Angga Bratadharma    •    Jumat, 01 Dec 2017 12:19 WIB
pertumbuhan ekonomi
Dukung Pertumbuhan Ekonomi via <i>Smart City</i>
Ilustrasi. (FOTO: MI/RAMDANI)

Jakarta: Gelombang internet dan digitalisasi sudah merambah seluruh sektor tak terkecuali ‎sektor pemerintahan. Pemerintah baik di pusat maupun di daerah semakin dituntut untuk efisien, efektif, dan transparan. Oleh karena itu pemerintah harus adaptif dengan tuntutan tersebut.

Sekarang ini, persaingan sudah kian ketat dan memaksimalkan laju pertumbuhan ekonomi sangat penting dalam rangka memeratakan tingkat kesejahteraan termasuk meningkatkan daya saing agar tidak tertinggal dengan negara lain. Di titik ini, penggunaan internet dan digitalisasi perlu dilakukan guna memaksimalkan pencapaian target pembangunan.

Hitachi menilai smart city sangat tepat diterapkan di Indonesia. Pasar smart city masih sangat luas karena rata-rata belum menggunakan smart city dan hanya beberapa yang sudah memulai seperti di Tanggerang Selatan. Penerapan smart city diharapkan mendukung aktivitas bisnis dan mendongkrak daya beli masyarakat.

Presales Social Innovation, IP & Business Development Hitachi Vantara Indonesia Yahya Laksana menjelaskan pihaknya memberikan solusi kepada pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta lainnya dalam hal mengelola smart city.

"Kita bisa mengintegrasikan kamera cctv apapun brand-nya, semua data terbaca. Bahkan wajah orang akan tampak jelas terbaca," kata dia, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat, 1 Desember 2017.

Teknologi yang disodorkan Hitachi dinilai dapat membantu mengelola pemerintahan secara digital. Ia memberikan contoh Singapura yang bisa melakukan pembersihan sampah hanya dengan teknologi. Ada sensor yang memberikan sinyal bahwa sampah sudah penuh untuk diangkut.

"Bahkan kita bisa mengetahui keberadaan truk pengangkut sampah," tuturnya.

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan perkembangan teknologi tak mungkin dihentikan. "Jadi digital ekonomi tidak mungkin untuk dihentikan, karena merupakan keniscayaan," kata Kalla.

Kalla tak khawatir dengan dampak positif dari digital ekonomi. Diketahui, beberapa perusahaan terpaksa memberhentikan karyawannya, sedangkan beberapa ritel terpaksa tutup gerai karena tak kuat bersaing dengan toko daring. Kalla menyebut, ada berkah di balik 'bencana' yang dialami beberapa pihak tersebut.

Kalla mencontohkan awal mulai ojek daring populer di Indonesia. Aplikasi ojek daring memang menggeser tukang ojek pangkalan. Tapi, ojek daring menyediakan banyak lapangan kerja untuk masyarakat.

"Tumbuh Go-Jek (driver) yang lebih banyak lagi. Memang Anda boleh pesan barang lewat daring, memang toko konvensional bisa kena. Tapi usaha logistik jadi maju," pungkas Kalla.


(AHL)