Bagasi Berbayar Pukul Pariwisata

   •    Minggu, 03 Feb 2019 08:49 WIB
bisnis maskapaipariwisata
Bagasi Berbayar Pukul Pariwisata
Illustrasi. Dok : MI.

Jakarta: Cek Ida, 39, pemilik toko oleh-oleh Pempek Cek Ida di Pasar 26 Ilir Palembang, Sumatra Selatan, pusing tujuh keliling melihat perkembangan usaha­nya belakangan ini.

Hal itu terjadi setelah beberapa maskapai penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier/LCC) menerapkan tarif bagasi untuk rute domestik. Kebijakan itu membuat omzet usaha empek-empeknya anjlok karena banyak turis menjadi malas berpergian untuk jalur domestik. 

“Biasanya banyak yang beli oleh-oleh, sekarang turun hingga 30 persen. Pembeli tidak mau keluarkan uang lebih untuk membayar bagasi,” kata Cek Ida dikutip dari Antara, Minggu, 3 Februari 2019. 

Bahkan pemilik Pempek Bang Ilham, Muhammad Yusuf, 30, lebih nahas lagi. Dia mengaku tidak hanya pembelian langsung yang berimbas mengalami penurunan, tetapi pemesanan paket oleh-oleh pun sama. 

“Sekarang berkurang 50 persen,” keluh Muhammad Yusuf.

Sebelumnya, maskapai bertarif rendah mulai menghapus layanan bagasi cuma-cuma (free baggage allowance) bagi para penumpangnya. Langkah ini pertama kali diambil maskapai Lion Air dan Wings Air. 

Kedua maskapai yang tergabung dalam Lion Air Group itu mulai mengenakan biaya tambahan bagi para penumpang yang membawa barang lebih dari 7 kilogram.

“Penumpang yang sudah membeli tiket sebelum 8 Januari 2019 tetap memperoleh bagasi cuma-cuma 20 kg untuk Lion Air dan 10 kg untuk Wings Air,” ujar Corporate Communications Strategic Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan tertulisnya, beberapa waktu lalu.

Langkah Lion Air dan Wings Air menghapus layanan bagasi cuma-cuma sedianya akan diikuti oleh maskapai Citilink. Namun, Citilink kemudian menunda kebijakan tersebut.

Sejumlah kalangan meradang melihat kebijakan bagasi berbayar maskapai berbiaya murah. Komisi V DPR saat rapat kerja, Selasa, 2 Februari, dengan Kementerian Perhubungan, meminta pemerintah menunda pemberlakuan bagasi berbayar itu.

Ketua Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) DIY, Udi Sudiyanto, mengatakan pengenaan tarif bagasi akan merugikan industri pariwisata.  “Banyak teman yang mengeluh penjualan tiket dan tamu menurun,” ujarnya.

Tak hanya kenaikan tarif bagasi, kenaikan tiket pesawat dan biaya kargo pun ikut memukul multisektor di industri pariwisata Riau.

“Sekarang anggota kami menawarkan tiket wisata ke Sumatra­ Utara dan Sumatra Barat dari Riau dengan menggunakan bus. Begitu juga wisata domestik sekarang beralih ke wisata negara tetangga,” kata Ketua DPD Asita Riau Dede Firmansyah.

Saat ini, lanjutnya, harga tiket pesawat dari Pekanbaru ke Jakarta rata-rata di atas Rp1 juta belum lagi bayar bagasi.

“Harga sebelumnya biasanya ditawarkan para agen mulai Rp700-an ribu,” ujarnya. Padahal, sambungnya, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata mencanangkan target kunjungan wisatawan Nusantara hingga 250 juta di tahun 2019.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti mengatakan kemungkinan pihaknya akan mengatur batasan atas dan bawah seperti harga tiket.

“Karena itu menyangkut hajat hidup orang banyak, pemerintah akan mengaturnya,” katanya kepada Media Indonesia, kemarin.



 


(SAW)