BPS: Indeks Pembangunan TIK Meningkat

Ilham wibowo    •    Senin, 17 Dec 2018 15:27 WIB
teknologibps
BPS: Indeks Pembangunan TIK Meningkat
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Indonesia kian meningkat. Survei di 2017 posisi Indonesia berada pada nilai 4,99 dari skala nol sampai 10.

Kepala BPS Suhariyanto memaparkan IP-TIK merupakan suatu ukuran standar yang dapat menggambarkan tingkat pembangunan teknologi informasi dan komunikasi suatu wilayah. Selain itu, kesenjangan digital serta potensi pengembangan TIK juga bisa terpantau.

"IP-TIK Indonesia 2017 sebesar 4,99, meningkat dibanding IP-TIK 2016 sebesar 4,34," ujar Suhariyanto di gedung BPS, Jakarta, Senin, 17 Desember 2018.

Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan potensi dan progress pembangunan TIK suatu wilayah lebih optimum. Sebaliknya, semakin rendah nilal indeks menunjukkan pembangunan TIK di suatu wilayah masih belum optimum.

IP-TIK disusun oleh 11 indikator yang dikombinasikan menjadi suatu ukuran standar pembangunan TIK suatu wilayah. Indikator bersumber dari data BPS dan data sekunder dari Kementerian Komunikasi dan Informatika ini  kemudian disusun menjadi tiga subindeks penyusun IP-TIK, yaitu subindeks akses dan infrastruktur, subindeks penggunaan, dan subindeks keahlian.

"Nilai subindeks paling tinggi pada 2017 adalah subindeks keahlian sebesar 5,75, diikuti subindeks akses dan infrastruktur sebesar 5,16, serta subindeks penggunaan sebesar 4,44," paparnya.

IP-TIK dinilai sangat penting sebagai ukuran standar tingkat pembangunan TIK di suatu wilayah yang dapat dibandingkan antarwaktu dan antarwilayah. Selain itu, IP-TIK juga mampu mengukur pertumbuhan pembangunan TIK, mengukur gap digital atau kesenjangan digital antarwilayah, dan mengukur potensi pembangunan TIK.

Tahun ini merupakan tahun ketiga BPS melakukan penghitungan IP-TIK dengan metode terkini berdasarkan buku Measuring Information Society 2016 yang dipublikasikan oleh International Telecommunication Union (ITU) dengan nama ICT Development Index.

"IP-TIK level provinsi mengalami peningkatan dari 2016 ke 2017. Provinsi dengan IP-TIK tertinggi pada 2017 adalah DKI Jakarta, yaitu 7,61. Sedangkan provinsi dengan IP-TIK terendah adalah Papua, yaitu 2,95," ungkapnya.

Meningkatnya penetrasi internet di Indonesia dapat mendorong berkembangnya penggunaan internet dalam aktivitas ekonomi atau fenomena digital economy. Salah satu indikator fenomena tersebut dapat terlihat dengan adanya korelasi positif antara indikator persentase penduduk yang menggunakan internet dengan PDRB per kapita.

"Nilai IP-TIK kategori tinggi pada 2016 dan 2017 ditempati oleh sembilan provinsi yang sama. Beberapa provinsi mengalami pergeseran kategori seperti Kepulauan Bangka Belitung yang mengalami penurunan, sedangkan provinsi yang mengalami peningkatan di antaranya Bengkulu dari kategori rendah menjadi sedang dan Sulawesi Tengah dari kategori sangat rendah menjadi rendah," tutupnya.


(AHL)