SDM Jadi Kunci Transformasi Ekonomi Indonesia

   •    Jumat, 07 Dec 2018 16:40 WIB
ekonomi indonesiaKualitas SDM
SDM Jadi Kunci Transformasi Ekonomi Indonesia
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Nusa Dua: Penyelenggaraan Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED) ke-8 membahas potensi dan tantangan transformasi struktural ekonomi global serta implikasinya terhadap proses transformasi ekonomi Indonesia.

Program Leader for Human Development World Bank Camilla Holmemo menilai sumber daya manusia menjadi kunci utama bagi transformasi ekonomi di Indonesia. Akan tetapi rendahnya investasi pada sumber daya manusia di masa lalu membuat Indonesia masih terjebak dalam masalah rendahnya kesehatan penduduk, besarnya angkatan kerja yang tidak terampil, dan ketimpangan gender.

"Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan berkelanjutan, melanjutkan reformasi sisi supply dan demand dari program pengembangan sumber daya manusia dengan mempercepat pengurangan stunting, reformasi pendidikan, serta reformasi program asuransi kesehatan," katanya dalam acara AIFED ke-8 di Inaya Hotel, Nusa Dua, Bali, Jumat, 7 Desember 2018.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara mengatakan Indonesia akan menjadi negara maju pada 2045 karena ditopang oleh bonus demografi, usia produktif, urbanisasi, jumlah kelas menengah, dan sektor jasa yang lebih produktif.

Namun demikian, Indonesia membutuhkan infrastruktur, sumber daya manusia, teknologi, perencanaan wilayah, sumber daya ekonomi dan keuangan, stabilitas makro dan politik, serta kepastian hukum.

"Masih terdapat sejumlah tantangan antara lain gejala deindustrialisasi, ketergantungan pada komoditas, industri yang terkonsentrasi di Jawa, masalah kualitas tenaga kerja, dan kemampuan adaptasi teknologi," ungkap dia.

Managing Editor of the Asian Development Bank menambahkan hambatan utama bagi industrialisasi Indonesia adalah kebijakan industri yang tidak dirancang dan tidak diterapkan dengan baik. Termasuk kegagalan menciptakan perusahaan manufaktur lokal yang besar.

Menurutnya, Indonesia perlu industri manufaktur yang terdiversifikasi dan modern agar ekonomi tumbuh cepat dan bisa menjadi negara berpendapatan tinggi.

"Terkait dengan kebijakan industri, Indonesia perlu menerapkan MIP (Modern Industrial Policy) yang memungkinkan Indonesia mengintervensi industri dengan mengambil beberapa sektor tertentu karena tidak seluruh sektor memiliki dampak yang sama terhadap perkembangan ekonomi," sambung dia.

Di sisi lain, Minister-Counsellor, Financial, Australian Treasury Overseas Representation in China David Woods membandingkan perekonomian Indonesia dengan Tiongkok di mana GDP per kapita, pertumbuhan produktivitas, tingkat tabungan, investasi, dan pembiayaan utang Tiongkok jauh lebih baik dari Indonesia.

Kata dia, beberapa hal bisa dipelajari dari perekonomian Tiongkok yaitu, rusaknya lingkungan karena kegiatan industri, naiknya ketimpangan ekonomi, selain itu net export bukan menjadi satu-satunya pendorong pertumbuhan tetapi juga modal.

"Namun demikian, pengalaman Tiongkok tersebut bukanlah model pertumbuhan yang cocok bagi semua negara," pungkasnya.

 


(AHL)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

3 days Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA