Utang Perusahaan BUMN Tembus Rp5.271 Triliun

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 04 Dec 2018 15:01 WIB
utang luar negeribumnkementerian bumn
Utang Perusahaan BUMN Tembus Rp5.271 Triliun
Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius K Ro (Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami)

Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat total liabilitas atau utang perusahaan pelat merah hingga kuartal III-2018 mencapai Rp5.271 triliun. Adapun total aset mencapai Rp7.718 triliun atau meningkat sebesar Rp508 triliun dibandingkan dengan Rp7.210 triliun per Desember 2017.

Namun, perlu diketahui bahwa sebagian utang tersebut termasuk Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan dan premi industri asurannsi. Secara hitung-hitungan akuntansi, DPK perbankan dan premi asuransi memang dimasukkan ke dalam utang. Akan tetapi, DPK dan premi tidak memiliki karakteristik seperti utang atau pinjaman dari kreditur.

"DPK itu kan uang Bapak dan Ibu yang disimpan di bank (BUMN). Dia sifatnya kalau Bapak dan Ibu mau tarik atau ambil (terserah) dan bukan kita bayarkan seperti pinjaman," tutur Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius K Ro, di Jakarta, Selasa, 4 Desember 2018.

Dia mengungkapkan simpanan DPK perbankan hingga September 2018 mencapai Rp2.448 triliun dan premi asuransi mencapai sebesar Rp335 triliun. Artinya bila dikurangi DPK perbankan dan premi asuransi utang riil yang harus dibayar sebesar Rp2.488 triliun.

"Utang di luar DPK perbankan dan premi asuransi nett-nya Rp2.488 triliun dari 143 BUMN," kata Aloysius.



Aloy menegaskan kondisi utang tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Pasalnya perusahaan BUMN memiliki kemampuan untuk melunasinya karena bisa dilihat dari rasio utang terhadap ekuitas atau Debt to Equity Ratio (DER) yang menjadi salah satu indikator kemampuan BUMN membayar utang. Karenanya dia menjamin kemampuan perusahaan BUMN untuk membayar utang.

Misalnya sektor transportasi, rasio DER BUMN sebesar 1,59 kali, sementara rata-rata industri berada di posisi 1,96 kali. Kemudian DER BUMN energi sebesar 0,71 kali, sementara rata-rata industri 1,12 kali. Lalu DER BUMN telekomunikasi berada di posisi 0,77 kali, sementara industri pada posisi 1,29 kali.

Adapun BUMN perbankan sedikit di atas industri yaitu sekitar enam kali, di mana rata-rata industri sebesar 5,66 kali. Begitu pun dengan sektor properti dan konstruksi, DER BUMN di kedua sektor itu mencapai 2,9 kali sedangkan rata-rata industri sekitar 1,03 kali.

"Kondisi utang BUMN tersebut masih dalam kondisi yang aman. Bila dibandingkan dengan rata-rata industri mengacu pada data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), bahwa rasio DER BUMN masing-masing sektor masih berada di bawah rata-rata DER industri," pungkas dia.

 


(ABD)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

3 days Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA