Ekonomi RI 2019 Masih Dibayangi Gejolak Global

Desi Angriani    •    Kamis, 31 May 2018 13:16 WIB
ekonomi global
Ekonomi RI 2019 Masih Dibayangi Gejolak Global
Menteri Keuangan Sri Mulyani. MI/Susanto.

Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut perekonomian Indonesia pada 2019 masih dibayangi oleh berbagai dinamika global. Hal itu menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyusun kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal 2019.

Menurutnya perekonomian dunia saat ini bergerak ke arah keseimbangan baru khususnya dipengaruhi oleh perubahan arah kebijakan Amerika Serikat (AS). Kebijakan tersebut antara lain normalisasi kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuannya serta kecenderungan pengetatan likuiditas.

"Kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve diperkirakan akan terjadi lebih cepat. Ini berarti terjadi kenaikan suku bunga dalam dolar AS secara lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya," ujar Ani sapaannya meresponds tanggapan DPR RI dalam rapat paripurna.

Selain itu, Pemerintah AS juga menerapkan kebijakan fiskal yang ekspansif dengan kebijakan pemotongan pajak dan penambahan belanja, sehingga mendorong kenaikan defisit fiskal secara cukup tajam.

"Potensi tambahan penerbitan US Treasury Bill untuk menutup defisit anggaran yang diperkirakan mencapai empat persen dari produk domestik bruto (PDB) AS. Kebijakan ini luga telah menyebabkan kenaikan imbal hasil surat berharga negara tersebut," tambah dia.

Di sisi lain, potensi perang dagang AS-Tiongkok, perkembangan perjanjian nuklir dengan Iran, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah, perkembangan politik negara-negara penghasil minyak seperti Venezuela, dan perkembangan di Semenanjung Korea juga memicu perubahan yang cepat pada harga minyak dan komoditas global.

Selain itu, kata Ani, hal ini juga memicu gejolak di pasar keuangan global dalam bentuk arus modal kembali ke AS, pengetatan likuiditas global, dan penguatan dolar AS. Pada gilirannya, kondisi-kondisi tersebut mempengaruhi prospek ekonomi dan perdagangan global.

"Proses pergerakan menuju keseimbangan baru tersebut diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan. Sebagai bagian dari perekonomian global, sudah tentu perekonomian Indonesia tidak luput dari dinamika yang sedang terjadi," pungkas dia. 

 


(SAW)