Kerek Daya Tarik Investasi lewat Perdagangan Bebas

Windy Diah Indriantari    •    Rabu, 18 Jul 2018 20:06 WIB
perdagangan bebasinvestasi
Kerek Daya Tarik Investasi lewat Perdagangan Bebas
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/M Rizal)

Sydney: Negara-negara berkembang yang ikut dalam kesepakatan perdagangan bebas multilateral maupun bilateral dengan negara-negara maju mengincar lebih banyak investasi. Pasalnya, mereka akan mendorong diri lebih keras memenuhi berbagai standar yang ditetapkan dalam kesepakatan.

Penasihat senior hubungan bisnis internasional Corrs Chambers Westgarth, Peter Grey, mengambil contoh kesepakatan Trans Pacific Partnership (TPP) yang juga diikuti Malaysia, Brunei, Vietnam, Meksiko, Peru, Cile bersama lima negara lainnya yang tergolong negara maju.

Negara-negara tersebut akan berusaha memenuhi standar produk dan jasa yang telah disepakati.

"Dampaknya, investor-investor seperti dari Amerika Serikat, Inggris, merasa nyaman untuk berinvestasi di negara tersebut. Mereka mendorong diri dengan keras, bahwa keberadaan mereka di TPP bukti mereka bisa memenuhi serangkaian kondisi tertentu yang disyaratkan dalam kesepakatan," papar Grey menjawab Media Indonesia seusai menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Australia and the Rules-Based International Order, di Australian National University, Canberra, Rabu, 18 Juli 2018.

Seminar yang menghadirkan para pakar dan praktisi perdagangan, hukum, dan keamanan internasional tersebut diselenggarakan Australian Institute of International Affairs.

Grey mengatakan Indonesia pun bisa memetik manfaat perdagangan bebas dengan negara maju seperti Australia, kendati kalah unggul di banyak sektor. Di samping meningkatkan daya tarik investasi, akses pasar yang lebih besar terbuka lebar.

"Memang negosiasi tidak selalu mudah, Anda akan selalu menemukan pihak yang akan terdampak dan di berapa kasus pemerintah bisa mengambil langkah untuk mengkompensasi potensi dampak negatif sambil tetap bisa memetik manfaat," papar mantan CEO Austrade itu.

Saat ini tengah berjalan negosiasi perdagangan bebas Indonesia-Australia dalam kerangka Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Negosiasi yang dimulai sejak 2010 itu sempat vakum sepanjang 2011-2015, kemudian aktif kembali pada 2016. Pemerintah optimistis negosiasi rampung pada November 2018.

IA-CEPA diharapkan mampu mendongkrak ekspor Indoesia ke Australia. Sejak 2015, neraca perdagangan Indonesia-Australia berbalik defisit bagi Indonesia. Produk ekspor Australia ke Indonesia terutama gandum, minyak mentah, ternak, dan batu bara. Adapun ekspor Indonesia terutama minyak mentah, minyak olahan, kayu dan produk kayu, serta alas kaki.

 


(AHL)