FAO: Ketahanan Pangan Indonesia Terancam

Gervin Nathaniel Purba    •    Selasa, 10 Jul 2018 20:49 WIB
pangan
FAO: Ketahanan Pangan Indonesia Terancam
Illustrasi. ANT /Syaiful.

Jakarta: Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan sekitar 69 persen tanah di Indonesia dikategorikan rusak parah lantaran penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan. Hal ini dapat mengancam ketahanan pangan nasional.

Phd Senior Expatriate Tech-Cooperation Aspac FAO Ratno Soetjiptadie mengatakan ketahanan pangan selama 2015-2080 Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim. Banjir, kekeringan, serangan hama, selalu dijadikan kambing hitam gagal pangan.

"Kita belum punya perencanaan. Kalau butuhnya satu juta ton, mustinya produksi 1,5 juta ton sehingga ada stok 0,5 juta ton. Kita belum sampai ke sana," ujar Ratno dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa, 10 Juli 2018.

Selain itu, rendahnya sentuhan teknologi oleh petani lantaran minimnya ilmu pengetahuan. Petani tidak dapat mengukur Ph tanah atau obat-obatan apa saja yang tidak boleh digunakan. Kemudian petani tidak bisa memilih benih unggul.

Bahkan, lanjutnya, ada petani di Kerawang memberikan pupuk pada tanaman padi hinga satu ton. Petani beranggapan bahwa diberi input satu kilogram (kg), maka ada kenaikan produksi.

"Akibatnya biaya produksi beras di Indonesia cukup tinggi, dan salah satu kontribusinya dari pembelian pupuk," tuturnya.

Ratno menambahkan, biaya produksi beras Indonesia sebesar Rp5.900 per kilogram (kg), Australia Rp1.800 per kg, dan Amerika Serikat (AS) Rp900 per kg.
Ditakutkan jka tidak terobosan, Indonesia akan tetap impor beras. Sementara sekitar 40 juta petani padi di Indonesia itu menghidupi penduduk 240 juta jiwa itu riskan," kata Ratno.

Apabila petani merugi, lanjut Ratno, maka petani itu akan beralih profesi.

"Sehingga siapa yang akan menanam padi. Untuk itu, perlu ada program perbaikan tanah secepatnya atau Soil Amendment Programme (Program Pembugaran Tanah) dengan memperbaiki sifat biologi tanah," jelas dia.


(SAW)