Pemerintah Diminta Tingkatkan Kualitas SDM Pertekstilan

Kautsar Widya Prabowo    •    Rabu, 11 Apr 2018 21:26 WIB
industri tekstil
Pemerintah Diminta Tingkatkan Kualitas SDM Pertekstilan
Ilustrasi industri tekstil. (Foto: Antara/Aloysius).

Jakarta: Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendorong pemerintah untuk mendukung pendidikan vokasi bagi Sumber Daya Manusia (SDM) dalam bidang tekstil dan garmen. Hal ini lantaran masih banyak pekerja dengan pendidikan terakhir SMP dan SMA.

Sekjen API Ernovian G Ismy menjelaskan kualitas SDM dalam dua bidang tersebut, perlu ditingkatkan untuk mendukung penerapan industri 4.0 yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

"Mereka yang harus dilatih agar dapat mengikuti perkembangan teknologi. Jangan sampai kita punya mesin yang mengoperasikan orang asing," ujarnya usai acara Membedah Revolusi Industri 4.0, di Hotel Ibis, Hayam Wuruk, Jakarta, Rabu, 11 April 2018.

Ia menambahkan, program tersebut dapat melatih kurang lebih 60 ribu SDM untuk mendapat sertifikasi. Namun pihaknya menyayangkan hanya dapat bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

"Sayangnya kenapa kita harus dengan Kementerian Perindustrian kan ada Kementerian Ketanagakerjaan," tambahnya.

Selain itu, pihaknya meminta pemerintah untuk merevisi Undang-undang Nomor 20 Tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO Nomor 138 Tahun 1973 mengenai Batas Usia Minimum Diperbolehkan Bekerja. Undang-Undang tersebut mengatur dengan jelas tentang umur minimum seseorang untuk bekerja minimum 18 tahun. Namun yang menjadi permasalahan adalah masih banyak lulusan SMA dan SMK yang berumur 16 tahun.

"Anak-anak SMA dan SMK itu ada yang umur 16 sudah lulus. Begitu lulus mereka mau ngapain? Mau kerja juga enggak diterima," jelasnya.

Sementara itu, pihaknya telah mengajukan perubahan sejak empat tahun lalu namun hingga saat ini belum ada titik terang.

"Kita minta sudah empat tahun lalu bahwa aturan itu untuk tenaga kerja minimal berumur 15 tahun, tapi sekarang belum ada kabarnya," tambah dia.

Sebelumnya industri tekstil dan pakai masuk dalam lima sektor manfaktur untuk penerapan awal industri 4.0. Adapun empat sektor lainya seperti industri makanan dan minuman, otomotif, kimia, serta industri elektronik.

Menteri Perindustrian Airlangga Haratanto menjelaskan dalam peluncurun program Making Indonesia 4.0, bahwa lima sektor tersebut akan menjadi percontohan dalam menjalankan 10 inisiatif nasional dalam upaya memperkuat struktur perindustrian Indonesia.


(AHL)