G4S: Transaksi Keuangan Indonesia Didominasi Pembayaran Tunai

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 08 Sep 2018 17:03 WIB
pertumbuhan ekonomiuangekonomi indonesia
G4S: Transaksi Keuangan Indonesia Didominasi Pembayaran Tunai
Ilustrasi (MI/USMAN ISKANDAR)

Jakarta: Laporan The G4S World Cash Report yang dirilis oleh G4S menyebutkan bahwa 50-55 persen transaksi keuangan di Indonesia masih menggunakan metode pembayaran tunai. Hal ini juga ditemukan di 18 negara dari 24 negara yang disurvei untuk laporan ini, seperti India dan Thailand, yang masih banyak menggunakan sistem tunai dan cash on delivery.

Chief Executive G4S untuk Global Cash Jesus Rosano mengatakan pembayaran tunai tetap menjadi bagian penting dalam ekonomi global sehari-hari. Survei yang di lakukan menunjukkan kebutuhan akan uang tunai masih terus tumbuh dengan pasti dan berpengaruh pada PDB, berbeda dengan opini yang beredar. Masyarakat sejauh ini masih percaya pada uang tunai.  

"Uang tunai bebas digunakan dan selalu tersedia, bersifat rahasia, tidak bisa dibajak, dan tidak bergantung pada aplikasi di telepon genggam yang sangat bergantung pada kekuatan baterai. Sejumah karakter unik ini membuat uang tunai tetap signifikan bagi masyarakat di benua manapun mereka tinggal," ujar Rosano, seperti dikutip dari laporannya, Sabtu, 8 September 2018.

The G4S World Cash Report melakukan survei di 47 negara yang meliputi 75 persen populasi global dan lebih dari 90 persen PDB dunia. Kesimpulan utama dari survei ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan transaksi tunai terus meningkat secara global, walaupun ada peningkatan pilihan pembayaran elektronik, termasuk mobile, dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan ini menggunakan dua instrumen utama untuk mengukur peningkatan kebutuhan akan tunai, yakni rasio Peredaran Uang Tunai (Currency in Circulation, CIC) terhadap PDB serta peningkatan penarikan uang tunai di negara-negara yang terlibat dalam survei.

Di Indonesia, selama kurun waktu 2012-2016, Peredaran Uang Tunai (CIC) tumbuh 53,1 persen menjadi Rp528,53 triliun. Sementara jumlah total penarikan uang tunai di ATM dalam periode yang sama meningkat sebesar 65,5 persen menjadi Rp2.353 triliun. Jumlah ATM di seluruh Indonesia pun meningkat sebanyak 54,3 persen dalam periode 2012-2016 menjadi 104.419 ATM.

"Karena uang tunai tetap menjadi pilihan pembayaran yang penting, maka sangat penting bagi dunia bisnis dan institusi untuk mengatur siklus uang tunai mereka secara efisien," tukasnya.

Meskipun uang tunai masih memainkan peran penting dalam transaksi keuangan di Indonesia, harus diakui bahwa opsi pembayaran nontunai juga tumbuh pesat. Transaksi kartu debit, misalnya, tumbuh 84 persen di periode 2012-2016, sementara transaksi kartu kredit tumbuh 37,7 persen dan transaksi eMoney tumbuh 578,9 persen," pungkasnya


(ABD)