KKP: Teknologi Bioflok Tingkatkan Produktivitas Lele

Desi Angriani    •    Rabu, 17 May 2017 18:36 WIB
perikanan
KKP: Teknologi Bioflok Tingkatkan Produktivitas Lele
Lele. ANTARA/Rahmad.

Metrotvnews.com, Jakarta: Guna mendorong ketahanan pangan nasional, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempopulerkan inovasi teknologi budidaya lele sistem bioflok. Teknologi ini dianggap mampu mengenjot produktivitas lele dengan keterbatasan lahan dan sumber air.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan, biofolk merupakan bentuk rekayasa lingkungan yang mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme. 

"Bioflok ini menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, apalagi saat ini produk lele sangat memasyarakat sebagai sumber gizi yang digemari," imbuh Slamet dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu 17 Mei 2017.

Dia menuturkan, budidaya system bioflok ini juga mampu menaikan produktivitas 3 kali lipat. Misalnya, sistem konvensional dengan padat tebar 100 ekor/m3 memerlukan 120-130 hari untuk panen, sedangkan sistem bioflok dengan padat tebar 500-1.000 ekor/m3 hanya membutuhkan 100-110 hari saja. 

Disamping itu, penggunaan pakan dinilai lebih efisien, jika pada teknologi konvensional FCR rata-rata 1,2 maka dengan teknologi bioflok FCR dapat mencapai 0,8.

"Dibanyak daerah teknologi lele bioflok terbukti sangat efisien, sebagai ilustrasi dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3, maka dalam satu kolam bulat ukuran diameter 3 m, dapat ditebar benih lele sebanyak min. 3.000 ekor, dan mampu menghasilkan lele konsumsi mencapai >300 kg per siklus (100-110 hari)," ungkap dia.

Lebih lanjut, pembudidaya yang menggunakan sistem tersebut dapat meraup pendapatan sekitar 420 juta per tahun atau sekitar 35 juta per bulan. Sebagai gambaran dalam 1 (satu) unit usaha (25 lubang kolam diameter 3 m), akan menghasilkan produksi sebanyak 7,5 ton per siklus.

"Tentunya ini adalah bentuk keberhasilan inovasi teknlogi budidaya, dan sekaligus menjadi jawaban tepat bagiamana memenuhi kebutuhan pangan masyarakat saat ini. Inovasi teknologi harus mampu menjawab tantangan dan masalah,  serta mampu memanfaatkan peluang yang ada," tandas Slamet.

Sementara itu, Ketua kelompok Clarias sp Balikpapan, Kalimantan Timur, Badar, mengaku meraup untung lebih banyak sejak menggunakan biofolk. Menurutnya, dengan padat tebar 4.000 ekor per kolam, hanya dalam waktu 70-80 hari, sebanyak 8 buah kolam miliknya mampu memproduksi minimal 2,5 ton ikan lele konsumsi. 

"Budidaya sistem bioflok meningkatkan pendapatan hingga 300 persen dibandingkan dengan sebelumnya," kata Badar.



(SAW)