Di BRF, Pemerintah Perhatikan Isu Tenaga Kerja Asing

   •    Selasa, 23 May 2017 19:24 WIB
tenaga kerja asing
Di BRF, Pemerintah Perhatikan Isu Tenaga Kerja Asing
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro . (ANT/Sigid Kurniawan).

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah menyatakan akan tetap memerhatikan isu tenaga kerja saat menawarkan proyek pembangunan terintegrasi di tiga wilayah Indonesia pada Belt and Road Forum (BRF) yang digelar di Beijing, Tiongkok, pada pekan lalu.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menegaskan, pemerintah akan menerapkan aturan yang sama terkait investasi dengan Tiongkok sebagaimana investasi dengan negara lainnya, khususnya juga terkait tenaga kerja asing.

"Tentunya kita juga concern dalam hal tenaga kerja. Kita ingin tenaga kerja asing yang didatangkan, memang yang tidak mungkin bisa disediakan dari dalam negeri," ujar Bambang saat diskusi dengan awak media di Kantor Bappenas, Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa 23 Mei 2017.

Bambang menuturkan, dalam tahap konstruksi proyek nantinya, tenaga kerja asing dapat dipekerjakan dengan pertimbangan untuk mempercepat penyelesaian pembangunan proyek itu sendiri. Namun, ketika sudah masuk tahap operasi dan pemeliharaan (maintanance), ia menyebutkan mayoritas akan mempekerjakan tenaga kerja lokal.

"Ya mungkin ada kebutuhan-kebutuhan tertentu yang hanya bisa dipegang oleh orang-orang tenaga kerja asing tadi," kata Bambang.

Selain itu, pemerintah juga akan mendorong adanya alih teknologi, tidak hanya sekadar aksi cari untung oleh para investor tersebut. Bambang menyebutkan, ada salah satu komunitas di Tiongkok yang mendorong adanya riset dan pengembangan (research and development/R&D) terkait alih teknologi, terutama dalam pembangunan infrastruktur.

"Apabila mereka investasi di Indonesia, maka riset dan pengembangannya juga harus dikembangkan di Indonesia, sehingga alih teknologi bisa berjalan lebih lancar," ujar Bambang.

Pemerintah juga telah menawarkan tiga kawasan di Indonesia kepada investor Tiongkok terkait dengan inisiatif Belt and Road yang diprakarsai pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut.Tiga wilayah tersebut, pertama adalah di Bitung, Sulawesi Utara. Bitung dinilai berpotensi sebagai wilayah yang terintegrasi dalam toll road-nya, jalur kereta api, lapangan terbang, pelabuhan, listrik, dan properti area.

Khusus investasi lapangan terbang diperlukan untuk Internasional, karena Manado tidak bisa lebih dari 2.800 m lagi panjang landasannya. Di wilayah tersebut turis Tiongkok naik 1.200 persen dan hotel serta restoran kewalahan.

Kedua adalah di Kalimantan Utara, di kawasan tersebut ada potensi listrik sebesar 7.200 MW. Di wilayah tersebut akan dibuat juga smelter serta kawasan industri. Industrial yang berpotensi seperti aluminium dan nikel. Wilayah ketiga adalah Sumatera Utara. Yang ditawarkan adalah mulai infrastruktur dari Kuala Tanjung, Parapat, sampai Sibolga. Selain itu, juga jalan terintegrasi ke Pekanbaru dan Duri Dumai.


(SAW)


Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

2 days Ago

Kepailitan Sariwangi AEA dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (…

BERITA LAINNYA