Petani Tebu Lumajang Diancam Tidak Boleh Giling di PG Jatiroto

Husen Miftahudin    •    Rabu, 24 May 2017 04:00 WIB
tebu
Petani Tebu Lumajang Diancam Tidak Boleh Giling di PG Jatiroto
Perwakilan petani tebu Lumajang, Budi Susilo. Foto: Husen Miftahudin/Metrotvnews.com.

Metrotvnews.com, Jakarta: Petani tebu Lumajang, Jawa Timur diancam tidak bisa melakukan penggilingan di Pabrik Gula (PG) Jatiroto. Ancaman itu lantaran mereka ogah melakukan menandatangani kontrak giling.

Perwakilan petani tebu Lumajang, Budi Susilo, mengakui sebenarnya dalam kontrak giling tak ada permasalahan berarti. Petani memberontak karena dalam kontrak giling tersebut diselipkan aturan mengenai kontrak jual.

"Dalam kasus ini, itu diselipkan urusan gula dan tetes dijual APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia. Seharusnya kontrak giling saja, penjualannya soal lain," ketus Budi saat berbincang dengan Metrotvnews.com usai pertemuan di Ombudsman, Jalan H. R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa 23 Mei 2017.

Budi menjelaskan, penandatanganan kontrak terjadi saat Forum Temu Kemitraan (FTK) yang dihadiri unsur petani, pemerintah, dan manajemen PG Jatiroto beberapa waktu lalu. Pertemuan itu sempat membahas soal penjualan, namun tak berarti menyetujui kontrak penjualan yang harus ditandatangani para petani.

Dalam kontrak giling, dijelaskan bagian petani sebanyak 66 persen bila rendemen tebu di bawah 7 persen. Sementara itu, 34 persen sisanya menjadi bagian PG sebagai ongkos giling.

"Yang lebih konyol dan arogan lagi, GM (PG Jatiroto) bilang, 'sudah kalau enggak mau tanda tangan kontrak jangan kirim tebu ke PG Jatiroto," paparnya.

Sontak para petani memberontak dan menolak untuk menandatangani kontrak. Menurutnya, manjemen PG tidak pantas mengancam petani untuk tidak menggiling. Sebab, PG merupakan kepanjangan tangan dari perusahaan negara yang turut membangun ekonomi nasional dengan mengutamakan kebutuhan rakyat.

Akibat hal itu, banyak petani tebu Lumajang yang enggan menggiling di PG Jatiroto. Mereka memilih untuk membawa tebunya ke PT Perkebunan Nusantara (PTPN) lain yang bebas menjual gula.

Berdasarkan data kasar yang dipaparkan Budi, sebanyak 400 truk tebu asal Lumajang dibawa keluar area PTPN XI. Artinya, sebanyak 2.400 ton tebu setiap harinya digiling di PG milik PTPN lain.

"Makanya di PG milik PTPN XI itu banyak yang mau tutup karena banyak tebu yang dibawa keluar. Meski masih ada beberapa petani yang menggiling di PG PTPN XI, tapi kualitasnya jelek-jelek, sedangkan yang bagusnya dibawa ke luar," pungkas Budi.


(AZF)