Ke Ombudsman, Ini yang Diadukan Petani Tebu Probolinggo

Husen Miftahudin    •    Selasa, 23 May 2017 20:08 WIB
tebu
Ke Ombudsman, Ini yang Diadukan Petani Tebu Probolinggo
Perwakilan Kelompok Petani Tebu Probolinggo, Faisol Muslich. Foto: Husen Miftahudin/Metrotvnews.com.

Metrotvnews.com, Jakarta: Kelompok Petani Tebu Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia mengenai dugaan tidak kompetennya PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI. PTPN XI dianggap merugikan petani dalam mengelola penjualan gula dan tetes.

Perwakilan Kelompok Petani Tebu Probolinggo, Faisol Muslich, menjelaskan, aduan tersebut berawal dari campur tangan terhadap pelelangan gula. Tidak hanya itu, pelelangan gula juga hanya melibatkan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI).

Menurut dia, hal ini sudah terjadi sejak 2005. Di tahun itu, organisasi Petani Tebu Gending Probolinggo meminta PTPN XI untuk membiarkan petani melelang dan menjual gula sendiri di Pabrik Gula (PG) Gending, Probolinggo. Sebab, pelelangan terpusat dinilai tidak transparan.

Tindakan Petani Tebu Gending Probolinggo merembet ke petani tebu lain yang menggiling di PG Gending. Pada 2007, petani menuntut agar PTPN XI menyerahkan pelelangan dan penjualan gula kepada petani terjadi di PG Pradjekan, Situbondo.

"Kemudian tahun 2009 gerakan penuntutan itu masif terjadi dari Pasuruan sampai Situbondo. Itu ada petani-petani yang berasal dari sembilan PG," papar Faisol saat berbincang dengan Metrotvnews.com di Ombudsman, Jalan H. R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa 23 Mei 2017.

Baca: Kemendag akan Buka Keran Impor Gula

Faisol mengatakan, permintaan untuk mengembalikan pelelangan dan penjualan kepada petani tidak bisa secara individu. Sebab, para petani tak lagi percaya pada APTRI, sehingga dibentuk Paguyuban Petani Tebu Rakyat (PPTR) untuk menyuarakan tuntutan petani.

"Lalu teman-teman buat surat kuasa kepada PPTR dan mengajukan ke PTPN XI agar saya punya organisasi mau jual sendiri tapi di PG masing-masing, bukan di PTPN XI. Tapi tetap enggak disetujui (PTPR tidak diakui) oleh PTPN XI," ungkapnya.

Faisol menuturkan, penjualan dan pelelangan gula secara mandiri oleh petani agar lebih transparan. Pembeli lokal pun bisa membeli gula petani, karena dijual dalam jumlah kecil. Sehingga, harga jual gula ke konsumen akhir bisa terjangkau.

Faisol berharap aduannya ke Ombudsman bisa menindaklanjuti tindakan PTPN XI yang tak berkompeten. "Di sini masalah pelayanan karena PTPN XI tidak melayani sebagaimana diatur Kemendag dan Kementan," kata Faisol.




(AZF)